Ya, Mereka Menginginkan Hukum Jahiliyah!
Oleh: Al –haddad
Team study shoutussalam
(Shoutussalam.com) Allah ta’al berfirman dalam al-qur’an yang artinya : “ apakah hokum jahiliyah yang mereka kehendaki?(hokum siapakah yang lebih baik dari pada hokum Allah bagi orang orang yang meyakini (agamannya) ? , begitulah kenyataanya yang ada sekarang, banyak orang orang bodoh yang hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri, mereka memutuskan suatu perkara menurut akal, keinginan, kemaslahatan dan perintah dari orang lain, meskipun keputusan itu menyelisihi Syari’at Allah ‘aza wa jalla.
Banyak dari manusia pada zaman sekarang yang terjebak oleh makar syaithon, sehingga mereka membuat hokum yang menyelisihi hokum Allah ta’ala, dan memutuskan suatu perkara selain dari Al-qur’an dan ajaran RosulNya, dari kalangan cendekiawan, para dukun, orang orang elit,para pejabat DPR, MPR dan yang semisal dengan mereka. Itu semua di sebabkan karena kebodohan mereka akan syari’at Allah ta’ala serta pembangkangan dan perlawanan mereka terhadap Allah dan RosulNYa.
Padahal Allah ta’ala telah menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepadanya, sebagaimana firmanNya : “ tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.dan firmanNya : “ dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu dan bapak”, “ dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.”
Ada suatu riwayat dari Sahabat Mua’dz bin Jabal Rodhiyallahuanhu berkata : “ dahulu saya di belakang Nabi Saw di atas keledai kemudian beliau berkata : “wahai Mu’adz, tahukah kamu apa itu hak Allah atas hambanya?jawab saya : “ Allah dan Rosul-NYa lebih mengetahui, kemudian Nabi berkata : “ hak Allah atas hambanya adalah agar mereka menyembahNya dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatu apapun, dan hak hamba atas Allah agar Allah ta’ala tidak menyiksa manusia yang tidak mensekutuknNya..”HR.Al Bukhori dan Muslim.
Banyak dari para Ulama yang mejelaskan makna ibadah berupa segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhoi dari segala perkataan dan perbuatan yang nampak maupun yang tidak, seperti di jelaskan oleh syaikhul islam Ibnu Taimiyyah.
Ini menunjukan bahwa konsekuensi ibadah harus di peruntukan untuk Allah semata, dari segala perintah, larangan, keyakinan, perkataan, perbuatan, dan agar kehidupan seseorang berada di atas Syari’at Allah ta’ala, menghalalkan apa – apa yang di haramkan Allah dan mengharamkan segala sesuatu yang di haramkan olehNYa sebagaimana firman Allah : “ maka demi tuhanMu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau Muhammad sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, sehingga kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
Dan dalam riwayt lain beliau bersebda : “tidaklah seseorang di katakan beriman hingga dia mau mengikuti dan menerima yang aku bawa.” Maka iman seseorang di katakan tidak sempurna kecuali kalau dia beriman kepada Allah semata, dan menerima syari’atNya baik dalam masalah sederhana maupun besar, dan berhukum dengan syari’at islam serta menjaga batasan batasanNya dalam setiap sisi kehidupan dalam jiwa, harta, kehormatan, jikalau tidak maka dia termasuk orang yang menyembah selain Allah, sebagaimana firmannya : “ dan sungguh kami telah mengutus seorang Rosul untuk setiap umat ( untuk menyerukan)” sembahlah Allah dan jauhilah Thoghut.”
Kemudian menyembah Allah semata dan berlepas diri Toghut (sesembahan selain Allah)dan berhukum dengan hokum Allah merupakan kosekuensi dua kalimat syahadat. Allah ta’ala telah bercerita mengenai bangsa Yahudi yang mana mereka menjadikan orang orang alim(yahudi), pendeta pendetab nasrani sebagai tuhan selain Allah, menghalakan apa apa yang Allah haramkan dan mengharamkan segala sesuatu yang Allah halalkan kemudian mereka orang yahudi juga mematuhinya.
Akan tetapi zaman sekarang banyak dari kalangan kaum muslimin yang meniru perilaku orang orang yahudi,meremehkan dan mencela hokum Allah serta memutuskan seuatu perkara tidak berlandaskan Al qur’an dan Assunnah tak terkecuali orang orang yang bekerja di Parlemen.
Jikalau sudah jelas bahwasannya berhukum dengan syari’at Allah itu merupakan konsekuensi dua kalmimat syahadat (لا أله إلا الله محمد رسول الله (, maka berhukum kepada para Toghut, para pemimpinya, cendekiawan dan yang semisal mereka merupakan pembatal ke Imanan seseorang kepada Allah dan di anggap sebagai kekafiran, kedholiman, kefasikan. Sebagaimana firman Allah : “ barang siapa yang tidak berhukum dengan hokum Allah maka mereka itulah orang orang kafir. Wallahu ‘alam
"Min Huna Nabda Wa Fil Aqsha Naltaqy"
Here we begin, in Aqsha we will meet
(AQAP)
- •Di Balik Pencitraan Dahlan Iskan...
- •Islam Telah Menguasai Sepakbola...
- •Analisa Revolusi Suriah: Beberapa...
- •Cara Berjilbab yang Benar Menurut...
- •[Komik Lucu] : Kepribadian Anda...
- •7 Hikmah Memelihara Jenggot
- •Akhwaat, Kenapa Kau Harus Menghapus...
- •Membongkar isi Kitab Talmud...
- •Sosok Pria Misterius Terekam...
- •Bedah Buku : Salafi Pengkhianat...
Tulisan lainnya: