Shoutussalam
Kamis, 11 Sya'ban 1434 H / 20 Juni 2013 M
Fan Page Shoutussalam Twitter Shoutussalam Berlangganan artikel Shoutussalam

Mereka yang Tegar di Bawah Ancaman Thoghut

Selasa, 19 Ramadhan 1433 H / 07 Agustus 2012

Shoutussalam.com - Di Indonesia ini, terutama di dunia maya, sudah “lumayan” banyak kaum muslimin yang sadar akan pentingnya tauhid yang murni dan menyeluruh. Tetapi mereka yang mau berjuang secara nyata tanpa sekedar banyak bicara ternyata sangat langka.

Yang lebih langka lagi adalah mereka yang berani melawan kemudian dipenjara oleh penguasa, namun selepasnya mereka keluar dari penjara mereka masih tetap ngeyel untuk terus berjuang. Hingga akhirnya tirani pun terpaksa mengurung mereka lagi ke jeruji besi, bahkan menghabisi nyawa mereka.

Memang beberapa kalangan menganggap bahwa tindakan mereka tergesa-gesa, terburu-buru, ataupun takwil-takwil “intelektual” lainnya yang intinya memperdebatkan perjalanan para tokoh “ngeyel” ini. Namun tidak diragukan lagi bahwa para dai-dai di bawah ini adalah mereka yang terdepan di dalam menyuarakan dan memperjuangkan al-haq, meski para tirani menyiksa, meski para penyindir berkicau.

Berikut para pejuang tersebut :

1. Asy-Syahid (kamaa nahsabuhu) Urwah Al-Qudsy rahimahullah


 Ustadz yang satu ini merupakan teladan yang sangat baik bagi ummat. Terlahir sebagai Bagus Budi Pranoto, sekitar 38 tahun yang lalu di daerah Kudus Jawa Tengah, ustadz Urwah dikenal tegas dan blak-blakan dalam menyuarakan kebenaran. Ketika orang lain mengiyakan saja apa kata ustadz-ustadz mereka dan tidak berani membantah, ustadz Urwah sangat dikenal karena berani mengkritik pedas ustadznya sendiri.

Ustadz Urwah sempat di jebloskan ke dalam penjara oleh penguasa karena diindikasikan terlibat dalam operasi JW Marriot 2004 selama 3 tahun 6 bulan. Operasi yang kedua kalinyalah (tahun 2009, plus Ritz Carlton) yang mengantarkannya menuju ke gerbang para syuhada (seperti yang kami perkirakan).

Beliau dalam ceramah-ceramahnya sangat gemar menghasung kaum muslimin untuk berjihad semampunya, bahkan dengan sebatang jarum. Beliau juga sangat sensitif dan perasa dalam menghadapi para DPO yang ditolak keberadaannya di dalam jamaah. Beliau menulis beberapa risalah yang di dalamnya berisi tentang permasalahan para mathlubin.

2. Abu Tholut (fakkallahu asroh) hafidhahullah


Pejuang yang satu ini juga termasuk yang teguh dalam usahanya menegakkan tauhid di bumi nusantara. Dari banyak tokoh alumni Afghanistan, Moro dan partisipan konflik lokal seperti Poso, Ustadz Abu Tholut merupakan orang kenamaan yang konsisten dan tidak mencukupkan diri hanya pada kenangan dan kebanggaan masa lalu saja. Tanpa rasa menyerah, beliau terus istiqomah menegakkan den ini baik melalui pemikiran dan kekuatan.

Sempat di penjara oleh thoghut lokal karena tuduhan kepemilikan senjata serta merancang operasi pengeboman. Hingga akhirnya ia mendekam di dalam hotel uzlah pada tahun 2004 hingga 2007. Namun pengalaman kerasnya di medan konflik dan pahit getir di kamar prodeo tak membuatnya menyerah begitu saja.

Pada tahun 2010 Kepolisian Indonesia menuduhnya terlibat dalam jaringan I’dad Aceh dan operasi CIMB Niaga. Hingga dengan izin Allah akhirnya beliau tertangkap di kampung halamannya di Kudus, tepatnya di Dukuh Bae Pondok, RT 4/III, Desa Bae, Kecamatan Bae. Pada Oktober 2011 beliau divonis 8 tahun penjara.

3. Abu Musa Ath-Thoyyar (fakallahu asroh) hafidhahullah


Ustadz muda yang bernama asli Luthfi Haidaroh ini memiliki kesamaan riwayat dengan Asy-Syahiid (kamaa nahsabuhu) Urwah. Mereka sama-sama pernah mengenyam bangku lembaga pemasyarakatan untuk kasus JW Marriot 2004. Bedanya jika Ustadz Bagus mendapat sergapan dari Densus 88 karena delik yang hampir sama di tahun 2009, maka Ustadz yang juga dikenal dengan nama Ubaid ini sekarang dalam penahanan thoghut karena keterlibatannya dalam I’dad Aceh 2010.

Ustadz Ubaid dikenal sering melakukan fastabiqul khairat dengan Ustadz Aman Abdurrahman dalam menerjemahkan kitab-kitab karangan ulama ahlu tsughur. Dalam keadaan lapang maupun sempit, kedua ustadz ini sering menggoreskan pena mereka untuk menerjemahkan risalah-risalah ataupun menerangkan ilmu yang haq kepada ummat.

Kini beliau mendekam di Cipinang untuk masa tahanan 10 tahun akibat pelaksanaan I’dad Aceh 2010.

4. Abu Bakar Baasyir (fakkallahu asroh) hafidhahullah


Disegani kawan maupun lawan, dihormati para mujahidin internasional, dan kharisma serta pengalamannya luar biasa banyak. Begitulah yang tersirat dari sosok kakek tua yang satu ini. Usia uzur tidak menghalanginya untuk berdakwah untuk menegakkan tauhid sejelas-jelasnya dan meninggalkan kemusyrikan selengkap-lengkapnya.

Terlalu banyak rasanya yang harus diceritakan dari aktivis senior yang sudah mengenyam bangku penjara sejak tahun 1970-an ini. Dari perlawanan terhadap penguasa diktator, serta perlawanan terhadap dua penguasa (baca : kaki tangan) liberalis yang berbeda jenis kelamin pernah ia lakoni.

Aktivis-aktivis Pemuda Islam hendaknya banyak belajar dari beliau, dari keterlibatan beliau di organisasi mahasiswa, hingga pengalaman beliau untuk mengangkat dakwah tauhid ini menuju porsi yang terang-terangan tanpa talbis. Kini beliau divonis 15 tahun penjara dengan pesanan Amerika Serikat.

5. Aman Abdurrahman (fakkallahu asroh) hafidhahullah


Tidak diragukan lagi bahwa ustadz berdarah sunda ini merupakan salah satu alim jenius yang dengan gagah berani berdakwah tanpa kitman dan talbis, apa adanya. Dengan gaya bicaranya yang kalem khas orang sunda, Ustadz Aman Abdurrahman tanpa tedeng aling-aling membantah segala macam syubhat. Dari syubhat kemusyrikan, demokrasi, hingga fitnah murjiah diterangkan oleh beliau secara runtut namun tenang.

Namun Ustadz Aman bukanlah muballigh yang enak-enak saja duduk di atas mimbar ceramah. Bukan cuma sekali (terakhir dijebloskan thoghut di tahun 2010 karena kasus I’dad Aceh selama 9 tahun) beliau dikurung dalam jeruji besi. Sebelumnya karena kasus kecelakaan I’dad Cimanggis 2004, beliau akhirnya harus mendekam di kurungan prodeo hingga 2008.

Bisa dibilang tidak ada pendakwah tauhid nusantara kontemporer, yang karya-karyanya melebihi apa yang dihasilkan oleh Ustadz Aman. Amal jariyah beliau dalam bidang terjemahan risalah sangat banyak, ditambah buku-buku pembantah syubhat pembela kemusyrikan seperti “Ya, Mereka Memang Thoghut”.

 

 

Mereka itulah beberapa dari pejuang-pejuang tauhid yang jumlahnya sangat sedikit. Semoga Allah menguatkan para aktivis tauhid untuk terus tegar tanpa tedeng aling-aling berdakwah meneruskan misi para Rasul yang termaktub dalam al-Qur’an : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk (menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhi Thaghut itu” (Q.S. An Nahl : 36).[sksd]