Breaking News Jum`at, 15 Dzulhijah 1435H / 10 October 2014
Riba Dalam Jual Beli

Riba Dalam Jual Beli

(Shoutussalam.com) Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammadshallallahu alaihi wasallam, kepada keluarga, para shahabat, dan yang mengikuti mereka hingga hari kiamat, amma ba’du:

Dalam kitab Mu’amalah Mashrofiyyah karangan Dr. Yusuf Asy Syubaily disebutkan bahwa secara umum penyebab haramnya mu’amalat khususnya jual beli ada 3 hal :

  1. Al Dzulmu (Kedzaliman)
  2. Al Ghoror (Penipuan)
  3. Riba

Disebutkan dalam buku tersebut bahwa secara garis besar riba terbagi dua yaitu riba dain

( utang- piutang) dan riba bai’ (jual- beli), maka kesempatan ini kita membahas macam jenis kedua dari riba yaitu riba bai’.

Riba Bai’

Yaitu: Riba yang obyeknya adalah akad jual-beli.

Riba jenis ini terbagai 2:

1. Riba Fadhl, yaitu: menukar harta riba yang sejenis dengan ukuran atau jumlah yang berbeda.

Penjelasan definisi:

– Maksud kata “harta riba” adalah: harta yang merupakan obyek riba, yaitu; emas, perak (uang/alat tukar) dan makanan pokok yang bisa disimpan dalam waktu lama.

– Maksud kata “sejenis” adalah: jenis harta riba. Emas dengan seluruh macamnya satu jenis, kurma dengan

seluruh macamnya satu jenis, mata uang real Saudi dengan segala bentukya (kertas, logam, simpanan di

rekening bank dan surat berharga, seperti: cek) satu jenis, mata uang rupiah satu jenis.

– Maksud kata ” ukuran atau jumlah yang berbeda” adalah tidak sama ukurannya.

Misalnya:

– Menukar satu gantang kurma jenis sukari dengan 2 gantang kurma jenis barhi dengan cara tunai.

– Menukar 100 gram emas baru dengan 200 gram emas usang dengan cara tunai.

– Menukar Rp. 10.000,- kertas dengan Rp. 9.800,- logam dengan cara tunai

Dalil

Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit bahwa nabi bersabda,” emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, kurma ditukar dengan kurma, gandum bulat ditukar dengan gandum bulat, garam ditukar dengan garam, dan gandum panjang ditukar dengan gandum panjang, haruslah semisal dan sama ukurannya serta tunai. Apabila jenisnya berbeda, ukurannya juga boleh berbeda dengan syarat tunai”. HR. Muslim.

2. Riba Nasi’ah, disebabkan keterlambatan serah-terima barang.

Definisi:

Riba nasi’ah, yaitu: menukar harta riba dengan harta riba yang ‘illatnya sama dengan cara tidak tunai.

Penjelasan definisi:

Maksud kata “‘illatnya sama” barang yang merupakan obyek tukar-menukar sama illatnya, seperti keduanya adalah alat tukar, atau keduanya makanan pokok yang tahan lama, baik jenisnya sama ataupun tidak.

Maksud kata “tunai” transaksi serah-terima kedua barang dilakukan pada saat yang sama.

Misalnya:

– Menukar 1 gantang kurma dengan 1 gantang gandum dengan cara tidak tunai.

– Menukar 100 gram emas dengan 100 gram emas dengan cara tidak tunai.

– Menukar SR. 100 ,- dengan Rp. 2.000,- dengan cara tidak tunai.

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa nabi bersabda,” menukar emas dengan emas adalah riba kecuali dilakukan dengan cara tunai, menukar gandum bulat dengan gandum bulat adalah riba kecuali dilakukan dengan cara tunai, menukar kurma dengan kurma adalah riba kecuali dilakukan dengan cara tunai, menukar gandum panjang dengan gandum panjang adalah riba kecuali dilakukan dengan cara tunai “. HR. Bukhari Muslim.

Hadist ini menjelaskan bahwa menukar barang yang sejenis haruslah tunai.

Sabda nabi dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ubadah di atas:

“Dan apabila jenisnya berbeda ukurannya juga boleh berbeda dengan syarat tunai”.

Hadis ini Menjelaskan bahwa menukar barang yang tidak sejenis dan masih satu ‘illat juga harus dengan cara tunai.

Macam-macam harta riba.

Obyek harta riba bai’ ada 6 jenis seperti yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ubadah di atas.

Enam jenis ini bisa dikelompokkan menjadi 2 bagian:

1. Uang Emas dan perak, illatnya adalah barang berharga yang merupakan alat pembayar, dan diqiyaskan barang yang sama fungsinya, seperti: mata uang modern. Setiap mata uang sebuah Negara merupakan jenis tersendiri. Real Saudi satu jenis, Rupiah Indonesia satu jenis dan emas satu jenis.

Adapun barang biasa yang bukan merupakan alat pembayar, seperti: barang tambang, rumah, mobil, barang elektronik dan furnitur tidak merupakan harta riba.

2. Empat jenis makanan, yaitu: gandum bulat, kurma, garam dan gandum panjang, illatnya bahan makanan pokok dan tahan lama. Dan diqiyaskan makanan yang fungsinya sama, yaitu makanan pokok suatu negeri yang bisa mengeyangkan dan tahan lama, seperti: beras, jagung, kacang arab dan lain-lain.

Adapun barang yang tidak mengeyangkan dan tidak tahan lama, seperti: buah-buahan, sayuran, susu, kue dan obat-obatan tidak merupakan harta riba.

Kaidah dalam riba bai’

Dalam tukar menukar harta riba ada 5 kemungkinan yang terjadi:

Menukar harta riba dengan harta riba yang sejenis, seperti: emas ditukar dengan emas dan mata uang rupiah ditukar rupiah. Untuk keabsahan akad ini dibutuhkan 2 syarat:

– Ukuran keduanya harus sama.

– Serah terima kedua barang harus tunai.

Jika syarat pertama tidak terpenuhi akad ini dinamakan riba fadhl, jika syarat kedua tidak terpenuhi akad ini dinamakan riba nasi’ah dan jika kedua syarat tidak terpenuhi akad ini dinamakan riba fadhl-nasi’ah.

2. Menukar harta riba dengan harta riba yang tidak sejenis tapi satu illat, seperti: menukar kurma dengan gandum, menukar emas dengan perak, menukar emas dengan rupiah atau menukar real dengan rupiah. Untuk keabsahan akad ini dibutuhkan satu syarat saja, yaitu: serah-terima kedua barang harus tunai dan tidak disyaratkan ukurannya sama.

Jika syaratnya tidak terpenuhi akad ini disebut riba nasi’ah.

3. Menukar harta riba dengan harta riba yang tidak sejenis dan tidak satu illat, seperti: menukar kurma dengan emas atau menukar beras dengan uang rupiah.

4. Menukar harta riba dengan yang bukan harta riba, seperti: menukar mobil dengan uang rupiah atau menukar rumah dengan uang dolar.

5. Menukar yang bukan harta riba dengan yang bukan harta riba, seperti menukar jam tangan dengan telepon genggam atau menukar satu mobil baru dengan 2 mobil usang.

Untuk nomor 3, 4 dan 5 tidak disyaratkan sama ukuran dan juga tidak disyaratkan serah terima dengan cara tunai. Sebaliknya, dibenarkan melakukan akad dengan ukuran berbeda dan tidak tunai (hutang). Maka boleh menukar mobil dengan uang rupiah dengan cara kredit dan boleh menukar 1 telepon genggam dengan 2 telepon genggam serta serah-terimanya baru dilakukan setelah 1 minggu.

Hikmah Riba bai’ diharamkan.

Riba bai’ diharamkan dalam rangka menutup celah terjadinya riba dayn. Karena riba fadhl ukurannya berbeda namun tunai dan riba nasi’ah tidak tunai namun ukurannya sama. Hal ini merupakan celah untuk terjadinya riba besar yaitu: riba dayn yang dilakukan oleh orang jahiliyah. Karena hakikat riba dayn adalah kumpulan dari fadhl dan nasi’ah dimana terdapat ukuran yang tidak sama dan tidak tunai. Orang yang memberikan kredit sebanyak Rp. 100.000,- dengan persyaratan dikembalikan Rp.110.000,- pada hakikatnya dia telah menggabungkan riba fadhl dan riba nasi’ah. Karena itu riba bai’ diharamkan akar tidak terjadi riba yang besar yaitu: riba dayn.

Ibnu Qayyim berkata,” dalam transaksi tukar-menukar mata uang dan harta riba diharamkan kedua belah pihak berpisah sebelum saling serah terima barang agar ini tidak dijadikan celah untuk menghalalkan riba dayn yang merupakan induk riba. Maka syariah menghindarinya dengan mewajibkan serah-terima dengan cara tunai dan mewajibkan ukurannya sama. Kedua barang yang menjadi obyek transaksi yang sejenis tidak boleh berlebih dari lainnya agar tidak ditukar segantang kurma bagus dengan 2 gantang kurma kwalitas rendah sekalipun nilai rasio segantang kurma bagus sama dengan 2 gantang kurma kwalitas rendah demi menutup celah orang menghalalkan riba dayn yang merupakan induk riba. Yaitu: bila menukar segantang kurma bagus sama dengan 2 gantang kurma kwalitas rendah dengan cara tunai saja dilarang padahal kwalitasnya berbeda tentulah larangan penukaran jenis yang sama kwalitasnya, seperti mata uang dengan cara penambahan jumlah sebagai imbalan pengunduran waktu pembayaran lebih dilarang lagi.

Inilah hikmah pelarangan riba fadhl yang tidak banyak diketahui orang, sehingga sebagian orang mengatakan,” saya tidak mengerti, kenapa riba fadhl diharamkan,” padahal hikmah pelarangannya telah dijelaskan Allah, yaitu: menutup celah pelegalan riba dayn … riba dengan kedua bentuknya diharamkan, riba dayn diharamkan karena mengandung kezaliman dan riba bai’ diharamkan sebagai penutup celah pelegalan riba dayn, dengan penjelasan ini terbukti kesempurnaan syariah dalam pelarangan dua bentuk riba. Dan ulama yang tidak membenarkan dalil sad zariah (menutup celah) bagi mereka pelarangan riba bai’ merupakan taabudi (tidak diketahui hikmahnya). Wallahu A’lam

(wazza)

Scroll To Top