uhud

Peristiwa-Peristiwa dalam Perang Uhud (2)

[shoutussalam.com] Sebelumnya, Rasulullah SAW telah bermimpi melihat ada retakan di pedangnya, seekor lembu disembelih dan beliau memasukkan tangannya ke baju besi yang kokoh. Beliau menakwili retakan di pedangnya dengan seorang yang akan gugur dari keluarganya, menakwili lembu dengan sekelompok sahabatnya yang akan terbunuh,dan menakwili baju besi dengan kota Madinah. Dengan begitu, sebenarnya beliau telah mengetahui hasil akhir peperangan!Tetapi, beliau tetap melaksanakan konsep musyawarah dann konsep bergerak sesudah musyawarah. Beliau sedang mendidik umat dan biarlah umat belajar dari beragam kejadian dan pengalaman berharga yang dihasilkan oleh kejadian-kejadian tersebut. Beliau tengah melaksanakan ketetapan Allah, yang diyakini oleh perasaannya dan juga hatinya. Beliau maju berdasarkan ketetapan-ketetapan takdir, seperti yang dirasakan oleh hatinya yang sumbang. Rasulullah SAW berangkat bersama 1000 orang sahabatnya setelah memerintahkan Ibnu Ummi Maktum menjadi imam shalat bagi orang-orang islam yang tersisa di Madinah.Ketika sampai di tempat antara Madinah dan Uhud, gembong orang munafik, ‘Abdullah bin Ubay membelot bersama sepertiga pasukan dengan mengatakan, “Ia (Rasulullah SAW) menentangku dan menuruti anak-anak muda!”‘Abdullah bin ‘Amr bin Haraam (ayah dari Jabir bin ‘Abdullah RA) menyusul mereka untuk mencemooh mereka dan menyuruh mereka pulang dengan mengatakan, “Mari berperang di jalan Allah, atau pertahankanlah (dirimu)!”Mereka menjawab,“Sekiranya kami mengatahui akan terjadi peperangan, tentulah kami akan mengikuti kamu” (QS. Al-‘Imraan:167)! Lalu ia (‘Abdullah bin ‘Amr bin Haraam) meninggalkan mereka kembali sambil mencemooh mereka.Sekelompok orang Anshar meminta Rasulullah SAW untuk meminta bantuan sekutu-sekutunya dari kalangan orang-orang Yahudi, namun beliau menolak. Sebab, peperangan ini adalah peperangan keimanan melawan kekafiran. Sehingga untuk apa melibatkan orang-orang Yahudi?! Dan pertolongan datangnya dalah dari sisi Allah, ketika tawakal telah tulus hanya kepadaNYA dan tatkala hati telah konsentrasi hanya kepadaNYA.Rasulullah SAW bertanya,“Siapakah orang yang mau menemani kami untuk mengawasi musuh dari dekat?” Maka, salah seorang dari kalangan Anshar pergi menemani beliau hingga tiba di sebuah jalanan setapak di Uhud di pinggir lembah, beliau menghadapkan punggungnya ke Uhud dan melarang sahabat melakukan penyerangan sebelum ada komando darinya. Keesokan harinya, Rasulullah SAW menyiapkan 700 orang prajurit untuk berangkat perang, ada diantara mereka 50 prajurit berkuda. Beliau mengangkat ‘Abdullah bin Jubair menjadi komandan pasukan pemanah (yang berjumlah 50). Beliau memerintahkannya dan rekan-rekannya tetap bertahan di tempat pertahanan mereka dan tidak meninggalkannya meskipun mereka melihat burung menyambar-nyambar dimedan peperangan. Posisi mereka berada di belakang pasukan. Beliau memerintahkan mereka menghujani pasukan musyrik dengan anak panah supaya mereka tidak menyerang pasukan muslim dari belakang.Rasulullah SAW mengencangkan baju besinya, memberikan panji-panji perang kepada Mush’ab bin ‘Umair, mengangkat Zubair bin ‘Awwaam dan Mundzir bin ‘Amr sebagai komandan pasukan kedua sayap (kiri dan kanan), menyeleksi kaum muda pada waktu itu; menyuruh pulang anak kecil yang dianggapnya masih terlalu muda (diantara mereka adalah: ‘Abdullah bin ‘Amr, Usamah bin Zayd, Usayd bin Zhahir, Barra’ bin ‘Azib, Zayd bin Arqam, Zaid bin Tsabit, ‘Arabah bin Aws, serta ‘Amr bin Hizam), serta memberi izin ikut berperang kepada mereka yang dianggapnya mampu (diantara mereka adalah: Samurah bin Jundub dan Rafi’ bin Khadij yang ketika itu keduanya baru berumur 15 tahun!).Sementara itu, pasukan Quraisy juga melakukan persiapan perang dengan kekuatan 3000 prajurit. Diantara mereka ada 200 pasukan berkuda. Mereka mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan sayap kanan, dan Ikrimah bin Abu Jahal sebagai komandan sayap kiri. Rasulullah SAW menyerahkan pedangnya kepada Abu Dujanah Sammah bin Kharsyah. Dia adalah seorang prajurit pemberani yang bermental baja di medan peperangan. Laa haula wa laa quwwata illaa billah!Bersambung, in syaa ALLAH.Sumber: Aku Wariskan untuk Kalian. Sayyid Quthb. USWAH[Ao49]