Home » Rubrik Ilmiah » Mempelajari Bahasa Inggris untuk Dakwah
bahasainggris

Mempelajari Bahasa Inggris untuk Dakwah

Oleh: Syaikh Muhammad bin Al Utsaimin

Syaikh ditanya:

Bagaimana pendapat anda tentang seorang penuntut ilmu mempelajari bahasa inggris terutama untuk berdakwah mengajak manusia kepada Allah?

Beliau menjawab:

Kita melihat bahwa mempelajari bahasa inggris hanyalah wasilah, tanpa diragukan. Bisa menjadi wasilah yang baik jika hal itu untuk tujuan yang baik dan bisa juga jelek jika tujuannya jelek. Akan tetapi sesuatu yang wajib dijauhi adalah mengambilnya sebagai pengganti dari bahasa arab, maka ini tidak boleh. Kita telah melihat sebagian orang bodoh berbicara dengan bahasa inggris sebagai pengganti bahasa arab sehingga sebagian orang itu yang menganggap mereka sebagai ekor bagi orang lain, mereka mengajari anak-anak mereka cara penghormatan orang kafir. Mereka mengajarkan ucapan bye-bye ketika berpisah, dan yang serupa dengannya. Karena mengganti bahasa arab yang merupakan bahasa al qur’an sebagai bahasa yang paling mulia adalah haram. Dan telah shahih dari larangan salaf tentang larangan berbicara dalam bahasa asing padahal mereka bukan arab.

Adapun menggunakan bahasa inggris sebagai wasilah bagi dakwah, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu terkadang menjadi wajib. Saya tidak mempelajarinya dan dahulu daya berharap dapat mempelajarinya karena saya temukan dalam beberapa kesempatan bahwa saya amat membutuhkannya sehingga penerjemahpun tidak mungkin mengungkapkan apa yang ada di dalam hati saya secara sempurna.

Saya akan ceritakan sebuah kisah kepada kalian yang terjadi di masjid bandara di Jeddah beserta beberapa tokoh Islam. Kami berbicara setelah sholat subuh tentang madzhab tijani dan itu adalah madzhab batil dan kufur dalam Islam. Saya brbicara dengan apa yang saya ketahui tentang madzhab itu. Lalu datanglah seseorang dan berkata,”saya ingin anda mengizinkan saya untuk menerjemahkan dengan bahasa husa.” Lalu saya berkata,”tidak apa-apa.” Lalu dia menerjemahkannya. Lalu masuklah seorang laki-laki dengan tergesa-gesa lalu berkata,”orang yang menerjemahkan ucapan anda ini memuji mazdhab tijaniyah.” Saya pun tercengang dan berkata,”Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, seandainya saya mengetahui bahasa ini, maka saya tidak membutuhkan orang-orang penipu ini.” Kesimpulannya, bahwa mengetahui bahasa lawan itu bicara-tidak diragukan lagi bahwa itu- sangatlah penting dalam menyampaikan informasi. Allah ta’ala berfirman:

 وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnya agar dia menjelaskan kepada mereka.” (Qs. Ibrahim:4)

Sumber: Panduan lengkap menuntut ilmu, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

(ehsan)