Daulah Islam Irak Akui Gelombang Serangan 10 Tahun Invasi

Daulah Islam Irak Akui Gelombang Serangan 10 Tahun Invasi

Shoutussalam.com – Kelompok Al Qaeda di Irak mengklaim dalangi gelombang serangan yang menewaskan 56 orang dan mencederai lebih dari 220 orang, dalam sebuah pernyataan yang dipasang di situs-situs internet, Rabu (20/3/2013).

“Apa yang kalian terima pada Selasa merupakan tahap pertama yang, insya Allah, akan disusul dengan pembalasan bagi mereka yang kalian eksekusi,” kata kelompok Negara Islam Irak (ISI), Daulah Islam Iraq, cabang Al Qaeda di Irak, dalam pernyataan itu.

Sedikitnya 20 ledakan dan sejumlah penembakan terjadi di Irak pada Selasa, banyak di antaranya di daerah-daerah Syiah di Baghdad selama jam sibuk pagi hari. Serangan-serangan itu berlangsung sehari menjelang peringatan tahun ke-10 invasi pimpinan AS ke Irak, yang bertujuan membentuk negara sekutu yang stabil dan demokratis di jantung Timur Tengah.

Pernyataan ISI tersebut menyebut serangan-serangan itu sebagai “tanggapan cepat” atas pernyataan menteri kehakiman Irak pada Senin bahwa “tidak ada sesuatu” yang akan menghentikan Irak melaksanakan hukuman mati yang kontroversial.

Irak menempatkan 129 orang dalam daftar hukuman mati tahun lalu, dan telah melaksanakan sejumlah eksekusi massal, termasuk satu insiden ketika 21 orang dieksekusi dalam satu hari.

Aksi Selasa itu merupakan yang terakhir dari gelombang pemboman dan serangan Istisyhad di tengah krisis politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mitra-mitra pemerintahnya, dan pawai protes selama beberapa pekan yang menuntut pengunduran dirinya.

Sepanjang Februari, 220 orang tewas dalam berbagai aksi di Irak, menurut data AFP yang berdasarkan keterangan dari sumber-sumber keamanan dan medis.

Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (Syiah) sejak Desember 2011 mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme, dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni.

Pejabat-pejabat Irak mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Wakil Presiden Tareq al-Hashemi pada 19 Desember 2011 setelah mereka memperoleh pengakuan yang mengaitkannya dengan kegiatan terorisme.

Puluhan pengawal Hashemi, seorang pemimpin Sunni Arab, ditangkap dalam beberapa pekan setelah pengumuman itu, tetapi tidak jelas berapa orang yang kini ditahan.

Hashemi, yang membantah tuduhan tersebut, bersembunyi di wilayah otonomi Kurdi di Irak utara, dan para pemimpin Kurdi menolak menyerahkannya ke Baghdad. Pemerintah Kurdi bahkan mengizinkan Hashemi melakukan lawatan regional ke Qatar, Arab Saudi, dan Turki.(Ayyas/kompas)

Scroll To Top