Perjalanan Nan Pilu Para Tahanan Wanita Menuju Penjara Irak

Perjalanan Nan Pilu Para Tahanan Wanita Menuju Penjara Irak

Ketika para wanita di Irak ditangkap, sebagaimana biasanya mereka akan melalui tiga tahap mengerikan, dimulai dengan penghinaan yang diikuti dengan penyiksaan, dan seringkali berakhir dengan pemerkosaan. Ada dua informasi berbeda tentang prosedural penahanan yang keji tersebut : yang pertama dari seorang pekerja sosial di Penjara Wanita al Kadimiyah, yang lain dari tiga orang aparat pengawal nasional yang bekerja di penjara.
Prosedur umum itu adalah sebagai berikut:
Saat Terjadinya Penangkapan
Perjalanan yang sangat menyiksa itu dimulai ketika pasukan keamanan Iraq melakukan perburuan dan menyerang rumah-rumah penduduk, melalui serangan acak atau serangan yang memang diperintahkan oleh atasan. Seorang perwira dari Tim 6 Pasukan Dua, Mayor Jumaa al Musawi, telah mengkonfirmasi kebenaran informasi ini. Laki-laki ini memiliki sebuah catatan kriminal, dan dia ditugaskan untuk menduduki posisi sebagai salah satu Komandan Pasukan oleh tentara Amerika selama rangkaian pelatihan pertama mereka dalam tugas pengumpulan intelijen. Dia dulu tinggal di al Thawra (sekarang disebut dengan nama Kota Sadr) / Sektor 87. Dia memaparkan kronologis penangkapan para tahanan :
“Ketika kami menerima perintah untuk memburu dan melakukan penyerangan dari Satuan Intelijen, terlebih dahulu kami biasanya mengadakan pesta kecil-kecilan dan menenggak alkohol, atau meminum drugs. Kami memilih tentara yang paling kejam untuk melaksanakan operasi tersebut. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengunci pria dan para pemuda di sebuah ruangan, dan perempuan dan anak-anak mereka di ruangan yang lain. Kami mulai mencuri apa saja yang bisa segera kami ambil, seperti perhiasan, dan kami mengobrak-abrik seisi rumah, seperti membuang pakaian dalam perempuan kesana kemari, beberapa prajurit bahkan mencuri beberapa darinya. Setelah itu, kami mulai mempermainkan tubuh para wanita, dan sangat menyenangkan menyentuh bagian bagian-bagian tubuh mereka yang paling pribadi. Kami mengancam akan menangkap semua orang yang berada di rumah jika mereka menolak untuk disentuh. Jika mereka adalah wanita-wanita yang cantik, biasanya kami akan segera memperkosa mereka, dan meninggalkan rumah itu ketika kami tidak menemukan senjata atau barang-barang lain yang bisa memberatkan mereka. Dalam beberapa kasus kami menemukan beberapa senjata, setiap pria dan pemuda di rumah itu akan ditangkap, dan jika tidak ada orang di rumah, kami akan menangkap para wanita di dalam sebagai gantinya. Semua yang saya ceritakan ini benar-benar sesuai dengan perintah yang kami terima dari atasan. “
Di bawah ini adalah salah satu dari sekian banyak cerita tentang kejahatan yang dilakukan oleh makhluk-makhluk korup, yang tanpa malu-malu berbual seputar kejahatan-kejahatan mereka satu sama lain. Al Musawi dan asistennya Letnan Rafid al Darraji (seorang mantan residivis yang pernah dipenjara di Abu Gharib dan dijatuhi hukuman mati, namun dibebaskan oleh Amerika, menobatkannya sebagai pasukan penjaga sebaris dengan para anjing-anjing penjaga). Oleh tentara Amerika ia diberi pangkat Letnan. Dia dulu tinggal Distrik al Nuariyah. Berikut ini adalah apa yang dia nyatakan sendiri :
“Pada bulan Juli 2006, kami menerima perintah untuk memburu dan menyerang rumah salah seorang pedagang kain di Karradah. Ketika kami sampai di rumahnya pada pukul 1 malam, kami tidak menemukannya, kami hanya menemukan istrinya dan anak laki-lakinya yang berumur 17 tahun. Selama perburuan itu kami menemukan senapan, yang -menurut hukum kami – hal itu diizinkan untuk perlindungan pribadi bagi warga sipil. Tapi kami mengancam wanita tadi, bahwa kami akan menangkap anaknya jika dia tidak memperbolehkan kami untuk memperkosanya. Kami pun memborgol sang anak dan mengurungnya di kamar, dan setelah itu para tentara Iraq memperkosa wanita itu secara bergiliran di ruangan yang lain. Sebagian prajurit mencuri apasaja yang bisa mereka temukan, kemudian kami menuju ke sebuah rumah pelacuran yang terkenal di Distrik al Doura, tepatnya rumah Um Alaa untuk menikmati malam yang tersisa. “
Dia melanjutkan: “Hal pertama yang kami lakukan ketika seorang wanita ditangkap dan sedang dalam proses pengangkutan ke lokasi penahanan adalah setiap bagian dari tubuhnya disentuh oleh semua tentara di kendaraan sembari mengucapkan kata-kata kotor. Ketika kami sampai di fasilitas penahanan, kami meninggalkan dia di ruang penyidikan, dengan diawasi oleh perwira intelijen dan asisten-asistennya. Mereka langsung melucuti semua bajunya, menutup matanya, dan memborgol dirinya. Sang perwira intelijen pun lalu mulai memperkosanya bersama dengan asistennya. Dan kemudian mereka mengajukan beberapa pertanyaan: apakah dia bersalah atau tidak, dan sebagainya. Lalu mereka memerasnya, mengatakan bahwa dia harus bersikap kooperatif dan memberikan semua informasi penting tentang daerah yang dia tinggali, jika tidak mereka akan mendistribusikan foto-fotonya saat dalam keadaan telanjang dan diperkosa. Mereka akan menuduhnya dengan berbagai macam tuduhan palsu jika dia akan mengajukan keluhan tentang pelecehan dan penyiksaan yang mendera dirinya. Jika dia menerima vonis “bersalah”, dia biasanya tetap berada di lokasi yang sama untuk jangka waktu satu hingga tiga bulan, untuk menyelesaikan prosedur “kasus” nya, yang akan dikirim ke kantor pusat. Selama bulan-bulan ini, setiap perwira intelijen tunggal dan tentara di Brigade akan memerkosanya. Setelah itu, dia akan dikirim ke Penjara Tasfeerat di Stadion Al Shaab, atau Penjara Bandara al Muthanna. Terkadang tahanan tersebut dipindahkan ke fasilitas militer di Kantor Panglima Tinggi Iraq di Green Zone, yang merupakan ruang bawah tanah di bawah gedung Markas Besar Operasi Baghdad, diawasi oleh Mayor Jenderal Adnan al Musawi. Tempat ini adalah salah satu, penjara paling berbahaya dan kotor dari rezim Syi’ah al Maliki.
Penjara al Tasrefat
Ini adalah tahap kedua dari perjalanan penangkapan yang sangat menyalahi prinsip keadilan. Para tahanan perempuan akan dikirim baik ke Penjara Stadion Shaab atau Penjara Bandara al Muthanna yang terkenal. Sekelompok psikopat yang paling buruk dalam pemerintahan Iraq mengawasi penjara ini, sebuah komite yang para penjahat korup dari Intelijen Militer, agen-agen Intelijen Departemen Dalam Negeri, dan seorang Perwakilan Intelijen dan Keamanan dari Kantor Panglima Tinggi Iraq. Mereka ditunjuk oleh Kantor Perbaikan Irak melalui Departemen Kehakiman. 45% karyawan adalah anggota milisi Syi’ah al Mahdi, 30% dari Jamaah Badr. 25% lainnya dibagi dengan para krimini pemerintahl lainnya.
Fase ini dianggap sebagai fase yang paling “barbar”. Pasukan keamanan, penjaga penjara, dan anggota manajemen penjara mempraktekkan cara-cara penyiksaan yang paling mengerikan, pelecehan, pemerasan para tahanan, diskriminasi etnis, sektarian dan politik, dan memperkosa para llaki-laki dan wanita tanpa terkecuali. Tahanan perempuan ditahan untuk waktu yang sangat lama, tanpa tuduhan yang benar atau dengan alasan masih dalam penyelidikan. Dalam penjara sang kriminal Maliki, ada banyak wanita yang dipenjara dalam jangka waktu antara satu tahun dan enam tahun, tanpa memiliki perwakilan maupun prosedur hukum mengenai kasus mereka.
Ada banyak contoh praktek-praktek tidak bermoral dan brutal yang dilakukan terhadap tahanan perempuan dan laki-laki di penjara al Tasfeerat. Beberapa petugas dari Kementerian Dalam Negeri dan Pertahanan, Kantor Kepala Komando, dan beberapa partisan serta pemimpin milisi yang kriminil mengunjungi penjara, dan memilih beberapa tahanan untuk disiksa selama berjam-jam dan memperkosa mereka dengan alasan sektarian. Beberapa tahanan meninggal sebagai akibat dari penyiksaan brutal. Antara tahun 2008-2012 Penjara al Rasafah Tasfeerat mencatat kematian lebih dari 250 orang tahanan, di antaranya 17 orang wanita. Selama periode yang sama Penjara Bandara al Muthanna mencatat kematian 125 tahanan, di antara mereka ada tiga orang wanita.
Dan praktek-praktek penyiksaan tidak hanya terjadi di Penjara al Tasfeerat Penjara, tapi juga di semua penjara diawasi oleh Departemen Kehakiman, khususnya Penjara Remaja, Penjara Wanita al Kadimiyah, Penjara Abu Gharib yang terkenal-, selain penjara rahasia al Maliki di mana tidak ada catatan akurat yang tersedia mengenai tahanan laki-laki dan perempuan yang meninggal karena penyiksaan brutal yang mereka hadapi di sana.
Perlu dibeberkan bahwa Iraq di bawah kekuasaan al Maliki, beberapa tahanan tingkat tinggi dan sangat berisiko –baik laki-laki dan perempuan-, sama-sama dibebaskan, secara diam-diam diselundupkan keluar dari Penjara al Tasfeerat, setelah sebelumnya menghancurkan semua dokumen dan surat-surat yang berhubungan dengan kasus mereka, atas perintah Menteri dan para VIP di Kementerian Dalam Negeri dan Pertahanan, dan Kantor Panglima Tinggi Iraq. Berikut ini adalah beberapa tahanan yang “dibebaskan”:
- Radiyah Kadum Muhsin: dia adalah salah satu pemimpin terkemuka dari Partai Dawa, dan dibebaskan setelah adanya perintah dari al Maliki sendiri, di bawah pengawasan Intelijen dan Kosultan Keamanan. Dia dituduh memimpin salah satu geng kriminal terbesar yang bergerak dalam perdagangan manusia, yang menculik anak-anak dan menjual mereka, disamping bisnis kotor prostitusi, menyuap beberapa petugas dan pejabat pemerintah, dan memeras mereka dengan foto-foto porno mereka sendiri, bahkan melenyapkan mereka. Dia juga dituduh terlibat dalam bisnis transaksi obat bius, dan memalsukan dokumen resmi negara.
- Adnan Abdulzahra al Aaraji: dia adalah salah satu pemimpin terkemuka dari Milisi Mahdi, dan kepala dari salah satu geng paling terkenal yang dalam sepanjang sejarah Irak dalam hal sadisme, kriminalitas dan diskriminasi. Ia ditangkap oleh Amerika ketika ia mencoba menyelundupkan 5000 mayat penduduk Iraq ke Iran selama perang sektarian pada tahun 2006. Mayat-mayat itu dikirim ke Iran menggunakan tiga kendaraan berpendingin berisi organ tubuh manusia yang akan diperdagangkan. Ia dituduh menyelundupkan barang-abarang antik, bahan peledak, senjata, dan obat-obatan. Kami disebutkan di sini hanya dua tahanan yang “dibebaskan” dari penjara al Maliki.
Pasca Pemeriksaan
Pada tahapan ini dimulailah tragedi yang sangat nyata. Setelah penangkapan, para tahanan –jika dia masih hidup – memiliki bekas luka-luka fisik di sekujur tubuhnya, mengalami masalah psikologis karena pengadilan yang tidak adil dan perlakuan buruk yang ia hadapi selama waktu di penjara, termasuk dalam proses penyiksaan dan pemerkosaan.
Di sini kesulitan serius dialami para tahanan wanita dalam menghadapi kekejian di pusat-pusat penahanan.
Ada perempuan dengan catatan kriminal, dihukum karena berbagai kejahatan. Para pengawas penjara menggunakan para tahanan untuk menggertak sebagain tahanan yang lain, secara sewenang-wenang mereka menahan perempuan yang tidak bersalah, dipenjara hanya karena alasan sektarian, karena tuduhan atau laporan palsu para informan rahasia. Mereka menakut-nakuti narapidana yang ditahan dengan sewenang-wenang, mengawasi mereka, berupaya terus menerus untuk mengetahui hal-hal tentang kehidupan pribadi mereka dengan memeras. Kemudian informasi yang diperoleh digunakan untuk mematahkan psikologis mereka, melalui disinformasi dan kebohongan tentang keluarga para tahanan yang tidak bersalah itu.

Shoutussalam – Ketika para wanita di Irak ditangkap, biasanya mereka akan melalui tiga tahapan mengerikan, dimulai dengan penghinaan yang diikuti dengan penyiksaan, dan seringkali berakhir dengan pemerkosaan. Ada dua informasi berbeda tentang prosedural penahanan yang keji tersebut : yang pertama dari seorang pekerja sosial di Penjara Wanita al Kadimiyah, yang lain dari tiga orang aparat pengawal nasional yang bekerja di penjara.Prosedural umum itu adalah sebagai berikut:

Fase Pertama : Saat Berlangsungnya Penangkapan

Perjalanan yang sangat menyiksa itu dimulai ketika pasukan keamanan Irak melakukan perburuan dan menyerang rumah-rumah penduduk, melalui serangan acak atau serangan yang memang diperintahkan oleh atasan. Seorang perwira dari Tim 6 Pasukan Dua, bernama Mayor Jumaa al Musawi, telah mengkonfirmasi kebenaran informasi ini. Laki-laki ini sebenarnya memiliki catatan riwayat kriminal, namun kinioleh tentara Amerikadia ditugaskan untuk menduduki posisi sebagai salah satu Komandan Pasukan selama rangkaian pelatihan pertama mereka dalam tugas pengumpulan intelijen. Dia dulu tinggal di al Thawra (sekarang disebut dengan nama Kota Sadr) / Sektor 87. Kronologis penangkapan para tahanan yang dia paparkan adalah sebagai berikut :

“Ketika kami menerima perintah untuk memburu dan melakukan penyerangan dari Satuan Intelijen, terlebih dulu kami biasanya mengadakan pesta kecil-kecilan dengan menenggak alkohol, atau meminum obat-obatan terlarang. Kami memilih tentara yang paling kejam untuk melaksanakan operasi tersebut. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengunci pria dan para pemuda di sebuah ruangan, dan perempuan dan anak-anak di ruangan yang lain. Kami mulai mencuri apa saja yang bisa segera kami ambil, seperti perhiasan, dan kami mengobrak-abrik seisi rumah, seperti membuang pakaian dalam para perempuan kesana kemari, beberapa prajurit bahkan mencuri beberapa darinya. Setelah itu, kami mulai mempermainkan tubuh para wanita, dan sangat menyenangkan menyentuh bagian bagian-bagian tubuh mereka yang paling pribadi. Kami mengancam akan menangkap semua orang yang berada di rumah jika mereka menolak untuk disentuh. Jika mereka adalah wanita-wanita yang cantik, biasanya kami akan segera memperkosa mereka, dan meninggalkan rumah itu saat kami tidak menemukan senjata atau barang-barang lain yang bisa memberatkan mereka. Dalam beberapa kasus kami menemukan beberapa senjata, setiap pria dan pemuda di rumah itu akan ditangkap, dan jika tidak ada orang di rumah, kami akan menangkap para wanita di dalam sebagai gantinya. Semua yang saya ceritakan ini benar-benar sesuai dengan perintah yang kami terima dari atasan. “

Di bawah ini adalah salah satu dari sekian banyak cerita tentang kejahatan yang dilakukan oleh makhluk-makhluk korup, yang tanpa malu-malu sesumbar menceritakan seputar kejahatan-kejahatan mereka satu sama lain. Al Musawi dan asistennya Letnan Rafid al Darraji (seorang mantan residivis yang pernah dipenjara di Abu Gharib dan dijatuhi hukuman mati, namun dibebaskan oleh Amerika dan menobatkannya sebagai pasukan penjaga yang sebaris dengan para anjing-anjing penjaga). Oleh tentara Amerika ia diberi pangkat Letnan. Dia dulu tinggal Distrik al Nuariyah. Berikut ini adalah apa yang dia nyatakan sendiri :

“Pada bulan Juli 2006, kami menerima perintah untuk memburu dan menyerang rumah salah seorang pedagang kain di Karradah. Ketika kami sampai di rumahnya pada pukul 1 malam, kami tidak menemukannya, kami hanya menemukan istrinya dan anak laki-lakinya yang berumur 17 tahun. Selama perburuan itu kami menemukan senapan, yang -menurut hukum kami – hal itu diizinkan untuk perlindungan pribadi bagi warga sipil. Tapi kami mengancam wanita tadi, bahwa kami akan menangkap anaknya jika dia tidak memperbolehkan kami untuk memperkosanya. Kami pun memborgol sang anak dan mengurungnya di kamar, dan setelah itu para tentara Iraq memperkosa wanita itu secara bergiliran di ruangan yang lain. Sebagian prajurit mencuri apasaja yang bisa mereka temukan, kemudian kami menuju ke sebuah rumah pelacuran yang terkenal di Distrik al Doura, tepatnya rumah Um Alaa untuk menikmati malam yang tersisa. “

Dia melanjutkan: “Hal pertama yang kami lakukan ketika seorang wanita ditangkap dan sedang dalam proses pengangkutan ke lokasi penahanan adalah setiap bagian dari tubuhnya disentuh oleh semua tentara di kendaraan sembari mengucapkan kata-kata kotor. Ketika kami sampai di fasilitas penahanan, kami meninggalkan dia di ruang penyidikan, dengan diawasi oleh perwira intelijen dan asisten-asistennya. Mereka langsung melucuti semua bajunya, menutup matanya, dan memborgol dirinya. Sang perwira intelijen pun lalu mulai memperkosanya bersama dengan asistennya. Dan kemudian mereka mengajukan beberapa pertanyaan: apakah dia bersalah atau tidak, dan sebagainya. Lalu mereka memerasnya, mengatakan bahwa dia harus bersikap kooperatif dan memberikan semua informasi penting tentang daerah yang dia tinggali, jika tidak mereka akan mendistribusikan foto-fotonya saat dalam keadaan telanjang dan diperkosa. Mereka akan menuduhnya dengan berbagai macam tuduhan palsu jika dia akan mengajukan keluhan tentang pelecehan dan penyiksaan yang mendera dirinya. Jika dia menerima vonis “bersalah”, dia biasanya tetap berada di lokasi yang sama untuk jangka waktu satu hingga tiga bulan, untuk menyelesaikan prosedur “kasus” nya, yang akan dikirim ke kantor pusat. Selama bulan-bulan ini, setiap perwira intelijen tunggal dan tentara di Brigade akan memerkosanya. Setelah itu, dia akan dikirim ke Penjara Tasfeerat di Stadion Al Shaab, atau Penjara Bandara al Muthanna. Terkadang tahanan tersebut dipindahkan ke fasilitas militer di Kantor Panglima Tinggi Iraq di Green Zone, yang merupakan ruang bawah tanah di bawah gedung Markas Besar Operasi Baghdad, diawasi oleh Mayor Jenderal Adnan al Musawi.” Tempat ini adalah salah satu penjara paling berbahaya dan kotor dari rezim Syi’ah al Maliki.

Fase Kedua : Singgah di Penjara al Tasrefat

Ini adalah tahap kedua dari perjalanan penangkapan yang sangat menyalahi prinsip keadilan. Para tahanan perempuan akan dikirim baik ke Penjara Stadion Shaab atau Penjara Bandara al Muthanna yang terkenal. Sekelompok psikopat yang paling buruk dalam pemerintahan Irak mengawasi penjara ini, sebuah komite yang para penjahat korup dari Intelijen Militer, agen-agen Intelijen Departemen Dalam Negeri, dan seorang Perwakilan Intelijen dan Keamanan dari Kantor Panglima Tinggi Irak. Mereka ditunjuk oleh Kantor Perbaikan Irak melalui Departemen Kehakiman. 45% karyawan adalah anggota milisi Syi’ah al Mahdi, 30% dari Jamaah Badr. 25% lainnya dibagi dengan para kriminil pemerintah lainnya.

Fase ini dianggap sebagai fase yang paling “barbar”. Pasukan keamanan, sipir penjara, dan anggota pengawas penjara mempraktekkan cara-cara penyiksaan yang paling mengerikan, pelecehan, pemerasan para tahanan, diskriminasi etnis, sektarian dan politik, dan memperkosa para laki-laki dan wanita tanpa terkecuali. Tahanan perempuan ditahan untuk waktu yang sangat lama, tanpa tuduhan yang benar atau dengan alasan masih dalam penyelidikan. Dalam penjara sang kriminal Maliki, ada banyak wanita yang dipenjara dalam jangka waktu antara satu tahun dan enam tahun, tanpa memiliki perwakilan maupun hak prosedur hukum untuk mengurus kasus mereka.

Ada banyak contoh praktek-praktek tidak bermoral dan brutal yang dilakukan terhadap tahanan perempuan dan laki-laki di penjara al Tasfeerat. Beberapa petugas dari Kementerian Dalam Negeri dan Pertahanan, Kantor Kepala Komando, dan beberapa partisan serta pemimpin milisi yang kriminil mengunjungi penjara, dan memilih beberapa tahanan untuk disiksa selama berjam-jam dan memperkosa mereka dengan alasan sektarian. Beberapa tahanan meninggal sebagai akibat dari penyiksaan brutal. Antara tahun 2008-2012 Penjara al Rasafah Tasfeerat mencatat kematian lebih dari 250 orang tahanan, di antaranya 17 orang wanita. Selama periode yang sama Penjara Bandara al Muthanna mencatat kematian 125 tahanan, di antara mereka ada tiga orang wanita.

Dan praktek-praktek penyiksaan tidak hanya terjadi di Penjara al Tasfeerat Penjara, tapi juga di semua penjara diawasi oleh Departemen Kehakiman, khususnya Penjara Remaja, Penjara Wanita al Kadimiyah, Penjara Abu Gharib yang terkenal-, selain penjara rahasia al Maliki di mana tidak ada catatan akurat yang tersedia mengenai tahanan laki-laki dan perempuan yang meninggal karena penyiksaan brutal yang mereka hadapi di sana.

Perlu dibeberkan bahwa Iraq di bawah kekuasaan al Maliki, beberapa tahanan tingkat tinggi dan sangat berisiko –baik laki-laki dan perempuan-, sama-sama dibebaskan, secara diam-diam diselundupkan keluar dari Penjara al Tasfeerat, setelah sebelumnya menghancurkan semua dokumen dan surat-surat yang berhubungan dengan kasus mereka, atas perintah Menteri dan para VIP di Kementerian Dalam Negeri dan Pertahanan, dan Kantor Panglima Tinggi Iraq. Berikut ini adalah beberapa tahanan yang “dibebaskan” :

-Radiyah Kadum Muhsin: salah satu pemimpin terkemuka dari Partai Dawa, dan dibebaskan setelah adanya perintah dari al Maliki sendiri, di bawah pengawasan Intelijen dan Kosultan Keamanan. Dia dituduh memimpin salah satu geng kriminal terbesar yang bergerak dalam perdagangan manusia, yang menculik anak-anak dan menjual mereka, disamping bisnis kotor prostitusi, menyuap beberapa petugas dan pejabat pemerintah, dan memeras mereka dengan foto-foto porno mereka sendiri, bahkan melenyapkan mereka. Dia juga dituduh terlibat dalam bisnis transaksi obat bius, dan memalsukan dokumen resmi negara.

-Adnan Abdulzahra al Aaraji: salah satu pemimpin terkemuka dari Milisi Mahdi, dan kepala dari salah satu geng paling terkenal yang dalam sepanjang sejarah Irak dalam hal sadisme, kriminalitas dan diskriminasi. Ia ditangkap oleh Amerika ketika ia mencoba menyelundupkan 5000 mayat penduduk Iraq ke Iran selama perang sektarian pada tahun 2006. Mayat-mayat itu dikirim ke Iran menggunakan tiga kendaraan berpendingin berisi organ tubuh manusia yang akan diperdagangkan. Ia dituduh menyelundupkan barang-abarang antik, bahan peledak, senjata, dan obat-obatan. Kami disebutkan di sini hanya dua tahanan yang “dibebaskan” dari penjara al Maliki.

Fase Ketiga : Pasca Pemeriksaan

Pada tahapan ini dimulailah tragedi yang sangat-sangat memilukan. Setelah penangkapan, para tahanan –jika dia masih hidup – memiliki bekas luka-luka fisik di sekujur tubuhnya, mengalami gangguan psikologis karena pengadilan yang tidak adil dan perlakuan buruk yang ia hadapi selama waktu di penjara, yang penuh dengan penyiksaan dan pemerkosaan.

Di sini kesulitan serius dialami para tahanan wanita dalam menghadapi kekejian di pusat-pusat penahanan.

Ada perempuan dengan catatan kriminal, dihukum karena berbagai kejahatan. Para pengawas penjara menggunakan para tahanan untuk menggertak sebagian tahanan yang lain, secara sewenang-wenang mereka menahan perempuan yang tidak bersalah, dipenjara hanya karena alasan sektarian, karena tuduhan atau laporan palsu para informan rahasia. Mereka menakut-nakuti narapidana yang ditahan, mengawasi mereka, berupaya terus menerus untuk mengorek hal-hal seputar kehidupan pribadi mereka dengan melakukan pemerasan. Kemudian informasi yang diperoleh digunakan untuk mematahkan psikologis mereka, melalui disinformasi dan kebohongan tentang keluarga para tahanan yang tidak bersalah itu. [arkan/ globalresearch.ca]

Scroll To Top