Tentang Sunat/Khitan Perempuan

Shoutussalam.com - Sebagian ulama dan fuqaha, mengungkapkan, khitan bagi wanita akan menjadi kebaikan bila dilakukan. Dalam sebuah hadis riwayat Syaddad bin Aus dijelaskan, ”Khitan adalah sunnah bagi kaum lelaki, dan merupakan kebaikan bagi kaum wanita.” Khitan terhadap laki-laki telah dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Sedangkan khitan untuk perempuan pertama kalinya dilaksanakan Siti Hajar. Dalam satu riwayat diungkapkan, bermula ketika Siti Sarah, isteri Ibrahim, memberikan izin kepada Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar. Siti Hajar pun hamil. Ini menimbulkan kecemburuan Siti Sarah. Ibrahim menyarankan agar Siti Sarah melubangi kedua telinga dan menyunat kemaluan Siti Hajar. Ibrahim Muhammad al-Jamal dalam bukunya berjudul Fiqh Wanita menyarankan agar tetap berpegang pada tuntunan hadis Nabi SAW. ”Rasulullah telah menerangkan, khitan bagi wanita akan mendatangkan kebaikan (makramah),” tegasnya. Di samping itu juga dapat mewujudkan kebersihan serta kesucian. Islam punya alasan khusus ketika menganjuran khitan. Muhammad al Jamal dan Sayyid Sabiq sepakat, bahwa ada maslahat pada lingkup ini, terutama terkait aspek kesehatan dan biologis. ”Karena dengan berkhitan, mereka (kaum wanita) bisa menjaga kebersihan dan kesucian diri,” ungkap al -Jamal. Mengutip pendapat Imam al-Syatibi, Prof Zaitunah Subhan dalam bukunya Fiqh Pemberdayaan Perempuan,menilai, dengan menekankan aspek maslahat, terutama secara medis dan syariat, tidak melihat alasan untuk tidak menganjurkan khitan bagi wanita. ”Sebab syariat pada dasarnya bertujuan untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat.” Ulama terkemuka Syekh Yusuf al-Qardhawi mengakui masalah khitan perempuan telah mennjadi perdebatan panjang di kalangan dokter dengan ulama. Ada dokter yang setuju, ada pula yang menentangnya. Begitu pula dengan ulama ada yang menganjurkan ada yang melarang. ”Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil dan paling dekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis,” ungkap Syekh al-Qaradhawi. Meski hadis itu tak sampai ke derajat sahih, papar dia, Nabi SAW pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita. Rasulullah SAW bersabda, ”Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”(Ayyas/rpblk)

Sebagian ulama dan fukaha, mengungkapkan, khitan bagi wanita akan menjadi kebaikan bila dilakukan. Dalam sebuah hadis riwayat Syaddad bin Aus dijelaskan, ”Khitan adalah sunnah bagi kaum lelaki, dan merupakan kebaikan bagi kaum wanita.” Khitan terhadap laki-laki telah dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Sedangkan khitan untuk perempuan pertama kalinya dilaksanakan Siti Hajar. Dalam satu riwayat diungkapkan, bermula ketika Siti Sarah, isteri Ibrahim, memberikan izin kepada Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar. Siti Hajar pun hamil. Ini menimbulkan kecemburuan Siti Sarah. Ibrahim menyarankan agar Siti Sarah melubangi kedua telinga dan menyunat kemaluan Siti Hajar. Ibrahim Muhammad al-Jamal dalam bukunya berjudul Fiqh Wanita menyarankan agar tetap berpegang pada tuntunan hadis Nabi SAW. ”Rasulullah telah menerangkan, khitan bagi wanita akan mendatangkan kebaikan (makramah),” tegasnya. Di samping itu juga dapat mewujudkan kebersihan serta kesucian. Islam punya alasan khusus ketika menganjuran khitan. Muhammad al Jamal dan Sayyid Sabiq sepakat, bahwa ada maslahat pada lingkup ini, terutama terkait aspek kesehatan dan biologis. ”Karena dengan berkhitan, mereka (kaum wanita) bisa menjaga kebersihan dan kesucian diri,” ungkap al -Jamal. Mengutip pendapat Imam al-Syatibi, Prof Zaitunah Subhan dalam bukunya Fiqh Pemberdayaan Perempuan,menilai, dengan menekankan aspek maslahat, terutama secara medis dan syariat, tidak melihat alasan untuk tidak menganjurkan khitan bagi wanita. ”Sebab syariat pada dasarnya bertujuan untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat.” Ulama terkemuka Syekh Yusuf al-Qardhawi mengakui masalah khitan perempuan telah mennjadi perdebatan panjang di kalangan dokter dengan ulama. Ada dokter yang setuju, ada pula yang menentangnya. Begitu pula dengan ulama ada yang menganjurkan ada yang melarang. ”Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil dan paling dekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis,” ungkap Syekh al-Qaradhawi. Meski hadis itu tak sampai ke derajat sahih, papar dia, Nabi SAW pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita. Rasulullah SAW bersabda, ”Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”