Perintah Taubat dan Istighfar

Perintah Taubat dan Istighfar

Shoutussalam.com -Setiap manusia yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak memandang tingginya jabatan seseorang atau banyaknya harta yang dimilikinya, kesalahan pasti pernah dilakukan. Kesalahan bisa saja dilakukan manusia dengan rasa sadar dan kesengajaan, ada juga manusia yang melakukannya tanpa kesadaran dan kesengajaan. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap Bani Adam pasti pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, & Al-Hakim)

Karena hati manusia terkadang salah dalam melaksanakan niat, kedua mata tanpa sengaja melihat sesuatu yang diharamkan untuk melihatnya. Lidah yang tak bertulang terkadang menjadi setajam pedang untuk menghina dan mencaci sesama. Telinga yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan hal yang baik, terkadang masih saja menikmati ketika mendengar musik-musik suara setan yang terdengar di jalanan. Untuk itulah Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.

Banyak terdapat ayat Al qur’an dan Hadist yang memerintahkan kepada seorang Muslim untuk bertaubat dan beristighfar kepada Allah ketika melakukan kesalahan dan dosa. Karena diantara sifat Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang, sudah seharusnya seorang Muslim untuk meyakini bahwa dosa dan kesalahan yang diperbuat akan diampuni oleh-Nya.

“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 110)

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepadaNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Maidah: 74)

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Seseorang yang bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dijanjikan akan mendapatkan ampunan dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Mereka juga akan kekal di dalam sana.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali-Imran: 135-136)

Disebutkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang dosanya telah diampuni, baik yang lalu maupun yang akan datang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala selalu bertaubat meminta ampunan seratus kali dalam sehari. Lalu, sudahkah kita yang tidak mendapatkan jaminan untuk meniru apa yang dilakukan Rasulullah dan beliau adalah suri tauladan kita ?

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Salah satu dari manfaat memperbanyak istighfar adalah mendapatkan jalan keluar dalam setiap kesempitan, menghilangkan kesedihan dan tergantikan dengan kelapangan, dan datangnya rezeki dari arah yang tak pernah disangka. Maka, apakah dapat disimpulkan seseorang yang selalu dalam keadaan sedih, merasa sempit, dan kurang rezeki berarti kurang beristighfar ?

“Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)

Allah Subhanahu wa ta’ala akan senantiasa menerima taubat hamba-Nya kecuali dalam waktu berikut. Pertama ketika matahari telah terbit dari barat, dan yang kedua ketika nyawa seseorang telah sampai di kerongkongan atau hendak meninggal dunia.

“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “sesungguhnya aku bertaubat sekarang.” (An-Nisa’: 18)

Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang Muslim untuk senantiasa bertaubat dan memohon ampunan atas dosa, maksiat, serta kesalahan yang telah diperbuat dalam keadaan dan kondisi apapun, sebelum ajal datang menjemput. Sehingga tak lagi ada kesempatan untuk memohon ampunan, dan hanya akan meninggalkan penyesalan yang tiada akan pernah berakhir.

oleh :

Ehsani

(Tim Studi Shoutussalam)

Scroll To Top