Sedikit Pembahasan Mengenai Orang Pikun

Sedikit Pembahasan Mengenai Orang Pikun

(Shoutussalam.com) Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terus terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, para sahabatnya serta umatnya hingga akhir zaman.

Manusia adalah makhluk yang sempurna atas penciptaan-Nya. Manusia memiliki keistimewaan tersendiri di bandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki panggilan-panggilan istimewa yang ditempatkan dalam Al Qur’an.

Secara biologis, manusia memiliki sifat-sifat fisik untuk memenuhi kebutuhan biologisnya sebagaimana yang diterangkan dalam Qs.Al-Mukminuun(23 ): 33, yakni Manusia melakukan aktivitas secara fitrahnya, makan dan minum. Kemudian dilihat dari aspek posisinya, sebagai Abdun ( hamba ),yakni manusia sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan patuh kepada Nya dalam setiap gerak-gerik tingkah lakunya. Baik dalam beribadah maupun aktivitas lainnya.

Akal merupakan salah satu kelebihan yang diberikan kepada manusia. Dengan akal manusia dapat membedakan yang mana yang haq(benar) dan bathil (buruk). Dalam hal ibadah misalnya, manusia diberi akal untuk berfikir. Terkadang akal bisa membuat manusia selamat dan tersesat. Keselamatan atau kesesatan yang dimiliki manusia tergantung dengan bagaimana ia bisa menggunakan akalnya dengan baik.

Ilang akal alias Pikun/dementia, biasanya tidak biasa berfikir dengan baik untuk melakukan aktivitas secara normal, seperti makan, mengganti baju bahkan shalat lima waktu. Penyakit tersebut dsebabkan oleh protein yang tidak diinginkan membentuk plak di beberapa daerah di otak.[1] Plak ini kemudian menghancurkan neuron dan memicu kerusakan jaringan otak yang sering menjangkit manusia. Manusia pada usia tua misalnya, sudah mengalami hal tersebut.

Bagaimana Pandangan Islam mengenai seseorang yang meninggalkan Ibdah shalat di karenakan mengalami penyakit pikun? Bagaimana kewajiban keluarga dalam hal tersebut?

Menurut pandangan Islam, seseorang di wajibkan untuk melakukan Ibadah khususnya shalat lima waktu. Banyak ayat Al Qur’an yang mewajibkan atas aktivitas tersebut. Di antaranya Al Baqarah(2): 3, 43, 45, 238, 277, QS. An-Nisa(4): 103, QS.Hud(11):114, dan banyak surat lainnya yang memiliki perintah yang sama, yakni melaksanakan rukun Islam yang ke-2 tersebut.

Ada perintah, ada pula larangan. Larangan dalam hal ini adalah larangan bagi setiap hamba meninggalkannya. Meninggalkan dalam hal kesengajaan, menunda-nunda, malas, sibuk, dll.

Tetapi dalam pembahasan ini adalah ‘orang pikun’ atau orang tua kita yang sudah tua yang mengalami penyakit pikun.

Dalam sabdanya, Rasulullah SAW bersabda:

, مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَ إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ . وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ نَسِيَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا

“Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ingat dan tidak ada kafarahnya selain itu saja.”

Dalam riwayat yang lain: “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur.” (Muttafaq `alaih)

Terdapat hadist lain yang menjelaskan, apabila seseorang teringat dari akalnya (sadar) maka di wajibkan untuk menyegerahkan amal (shalat) tersebut

Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang lupa shalat maka shalatlah ketika ingat, tidak ada tebusan baginya selain seperti itu.” ( HR Bukhari-597 )

Orang yang pikun tidak diwajibkan shalat. Pembebanan syariat ( taklif ) tidak ditujukan padanya. Kewajiban tersebut hanyalah dibebankan/ditujukan untuk yang berakal(sadar). Karena itu, Allah mewajibkan berbagai bentuk ibadah kepada manusia selama ia berakal sehingga dapat memahami perintah, larangan, serta tujuan ibadah tersebut.

Adapun orang-orang sama dalam kasus ini adalah orang yang akalnya tidak normal meski belum sampai pada tingkat gila, atau orang tua yang sudah kehilangan ingatan maka tidak wajib atasnya shalat dan puasa karena ingatannya telah terganggu bahkan hilang. Perumpamaan seorang bayi yang belum bisa memberdakan yang baik dan buruk, maka terlepaslah terlepaslah beban syariat darinya.

Dan mengenai kewajiban keluarga hanyalah mengingatkan dan menasehati pihak keluarga yang mengalami penyakit tersebut, maupun dalam kondisi lainnya. Karena pada sesungguhnya masing-masing manusia wajib saling menasehati satu sama lainnya dan tidak ada penanggungan dosa terhadap orang yang menyalahi syari’at. Dalam pembahsan ini di jelaskan dalam QS. Fatir: 18 yang artinya sebagai berikut:

“Masing-masing manusia hanya memikul kesalahannya sendiri” (QS. Fatir: 18)

Wallahu ‘alam bisshawab.

*) Miftah Jannah


[1] WordPress.com

Scroll To Top