Jangan Hanya Karena Gengsi

Jangan Hanya Karena Gengsi

Ilustrasi: Lampu Teplok

Siang itu begitu panas, Umar bin Khoththob sedang berada di luar kota Madinah, ia menutupi kepalanya dengan selembar kain untuk mengurangi terik yang terasa. Tiba-tiba seorang anak menaiki keledai lewat didekatnya. “Hai nak, boleh aku ikut naik bersamamu?” kata Umar. Anak itu pun melompat turun dari keledai dan berkata, “Silahkan Amirul Mukminin naik, dan biarlah aku berjalan dibelakang. “Tidak”, jawab Umar, “Aku tidak mau berenak-enakan sedangkan engkau bersusah payah, kita naik bersama-sama, kamu di depan aku di belakang”. Dan mereka pun meneruskan perjalanan sambil berboncengan sampai memasuki kota Madinah. Penduduk Madinah pun tersenyum demi melihat pemimpin mereka satu kendaraan dengan anak kecil.

Begitulah, seorang pemimpin besar yang disegani kawan maupun lawan, tanpa sungkan berkendaraan dengan seorang anak kecil . Beliau tidak khawatir harga dirinya jatuh hanya lantaran itu. Umar tetaplah Umar, dia pemimpin besar yang jika disebut namanya kepada Raja Persi dan Kaisar Romawi, niscaya mereka gemetar dibuatnya.

Ironis dengan keadaan kita!! Kadangkala kita merasa enggan untuk sedikit berendah hati dan sungkan untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan orang-orang yang kita anggap tak sederajat dalam urusan usia, harta, kedudukan, ilmu, dan pengalaman. Dengan alasan gengsi, bukan syar’i, kita enggan bertemu atau sekedar berkumpul dengan mereka. Itulah bukti bahwa kita masih salah mengerti tentang bagaimana seharusnya memelihara harga diri.

Sebentuk kesalahan lainnya adalah keengganan kita untuk mengerjakan sesuatu yang kita anggap menjatuhkan gengsi. Ya, meski itu kita butuhkan, dan meski itu kita hajatkan. Misalnya: mencuci, menyetrika, menyapu, atau bersih-bersih rumah, atau juga membantu pekerjaan orang tua sehari-hari. Kita menganggap hal itu bisa melunturkan citra pribadi.

Untuk itu, marilah kita ingat kembali!!

Manusia yang paling mulia yang pernah dilahirkan di atas bumi ini, yakni Rasulullah, beliau terbiasa mengurus keperluannya sendiri. Beliau tidak sungkan menjahit atau menambal pakaiannya. Demikian pula beliau tidak enggan untuk memperbaiki sandalnya sendiri. Apalagi dalam urusan rumah tangga, Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat ringan membantu kerepotan istri-istrinya.

Lihatlah pula Umar bin ‘Abdul Aziz!!

Ketika seorang sahabatnya datang menemuinya, melihat lampu yang mulai redup krena kehabisan minyak, sang tamu berinisiatif memperbaikinya. Namun, Umarpun mencegahnya, “tak layak tuan rumah merepotkan tamunya,” “kalau begitu biarkan aku menyuruh pembantumu,” kata sang tamu. “Tidak perlu, dia baru saja istirahat,” kata sang Khalifah sambil beranjak mengambil minyak kemudian menambahkannya ke lampu yang hampir mati tadi. “Engkau sendiri melakukannya wahai Amiirul Mu’miniin?” tanya sang tamu heran. “Aku melakukannya atau tidak tetap saja aku Umar. Tak ada yang berkurang dariku. Sebaik-baik orang adalah yang tawadhu’ di sisi Allah,” jawab Umar.

Lalu, masihkah hanya karena gengsi kita justru menjauh dari hal-hal yang bisa mengantarkan kepada kemuliaan dan harga diri yang sesungguhnya??

oleh: el Adzkiya

(Shout 4 Muslimah Team)

Scroll To Top