Dan Sarah pun (istri Nabi Ibrahim as) Tertawa

Dan Sarah pun (istri Nabi Ibrahim as) Tertawa

Shoutussalam.com Al-Qur’an al-Karim adalah kalam Allah dan kitabNya yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, dinukil secara mutawatir (terpercaya), membacanya merupakan ibadah, hukum-hukumnya mengikat, dan kisah-kisahnya bisa dijadikan pelajaran.

Diantara moment yang dikisahkan al-Qur’an dan Allah mengisyaratkan kata “ketawa” padanya, adalah kisah tentang datangnya utusan Allah (Malaikat) kepada Nabi Ibrahim AS. Ketika mereka datang, kemudian mereka mengatakan suatu ungkapan yang membuat ibu Sarah -istri Nabi Ibrahim- tertawa. Allah SWT berfirman :

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan:”Selamat”. Ibrahim menjawab:”Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandanganeh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata:”Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth”.

Dan isterinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak dan sesudah Ishak (lahir pula) Ya’qub.

Isterinya berkata:”Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh”.

Para malaikat itu berkata; “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”. (QS. 11:69-73)

Dalam kisah diatas, yang tertawa adalah Sarah, istri nabi Ibrahim AS. Dikatakan, bahwa nama Sarah diambil dari kata “surur” yang berarti kebahagiaan, dan keceriaan.

Sarah menghadiri kejadian itu, dari awal kehadiran para malaikat yang menjelma sebagai manusia, sampai akhir.

Sarah dan Ibrahim AS sedang berdua ketika datang kepada mereka tiga orang yang tidak dikenal identitasnya, tidak diketahui mereka datang dari mana, dan tidak diketahui apa tujuan mereka. Setelah saling memberi penghormatan dan menyampaikan salam antara Ibrahim AS dengan ketiga orang tersebut, nabi Ibrahim berdiri untuk memberikan jamuan sebagai penghormatan kepada tamu. Nabi Ibrahim segera membawa anak sapi yang gemuk kemudian menyembelihnya, menguliti dan membakarnya, kemudian disuguhkan kepada tamu.

Akan tetapi para tamu membuat nabi Ibrahim kecewan sekaligus takut, ketika mereka tidak menyentuh sama sekali hidangan tersebut. Ketika melihat mereka mengundang tawa menyentuh makanannya, nabi Ibrahim menegur mereka, sebab kalaulah kewajiban tuan rumah menghormat tamu, maka adalah kewajiban tamu untuk memakan makanan yang dihidangkan tuan rumah.

Oleh karena mereka menyalahi tradisi, maka nabi Ibrahim merasa takut bahwa sebab enggannya mereka memakan sedikitpun makanan, dikarenakan mereka berniat jahat terhadap beliau. Atau mereka menyembunyikan niat jelek terhadap keluarga Ibrahim AS.

Semua itu terjadi, dan Sarah menyaksikannya juga menyaksikan apa yang terjadi antara para tamu dengan suaminya. Barangkali ia juga merasakan apa yang dirasakan Ibrahim AS dan juga merasa takut dari para tamu tersebut yang menyimpang dari tata krama bertamu.

Dan ketika para tamu hendak membuka identitas mereka, untuk menghilangkan ketakutan dari hati Ibrahim SAW, tiba-tiba sarah tertawa, ketika para tamu berkata kepada suaminya :

“Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth, Dan isterinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum…”

Disini, sarah mengungkapkan apa yang bergejolak dalam hatinya dengan tawa (senyum) ketika mendengar apa yang dikatakan para tamu dalam membuka identitasnya kepada Ibrahim AS dan istrinya. Bahwasanya mereka bukan manusia, mereka adalah malaikat, dan mereka hendak pergi menuju nabi Luth. Sampai sini saja Sarah sudah tidak bisa menahan diri untuk tertawa (senyum).

Tentu, karena kejadian itu diselingi oleh beberapa hal yang kontradiktif, yang mengundang Sarah untuk tertawa ketika mengetahui hal yang sebenarnya.

Barang siapa yang memperhatikan secara seksama akan ayat yang menuturkan kisah ini, akan mendapatkan bahwa ayat ini mengandung dan menunjukan beberapa sebab yang membuat sarah tertawa.

Rupanya Sarah mengungkapkan segala pengetahuan dan informasi yang ia pendam tentang kejadian aneh tersebut. Diantara pengetahuan yang ia pendam itu dan kejadian aneh yang diisyaratkan oleh kisah tersebut ada yang membuat Sarah heran dan tersenyum.

Jika tidak ada sebab untuk tertawa, lalu kenapa sarah tertawa ? apakah ia tertawa tanpa sebab ? kalau lah ada beberapa sebab yang membuatnya tertawa, apakah itu ? dan apa yang membuat sarah tertawa ?

Para ulama dan ahli tafsir al-Qur’an al-Karim menyebutkan beberapa sebab yang satu sama lainnya saling menguatkan. Sebab-sebab itulah yang membuat sarah tersenyum didepan para tamu tersebut.

Kita mulai dengan apa yang dituturkan oleh Imam Fakhru Razi dalam “at-Tafsir al-Kabir” yang terkenal dengan sebutan “Mafatihul Ghaib”. Beliau memaparkan pendapat-pendapat para ulama dan ahli tafsir tentang sebab yang membuat sarah tersenyum dalam kisah yang disebutkan dalam kitab Allah. Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama : ar-Razi menukil dari al-Qadhi Abdul Jabbar, ia mengatakan : Sebab yang mendorong sarah tertawa, pasti telah disebutkan dalam ayat tersebut. Yaitu tiada lain, karena sarah merasa gembira dengan hilangnya ketakutan pada diri Ibrahim. Dimana para malaikat berkata : “Jangan takut” maka sarah sangat bergembira dikarenakan kegembiraan Ibrahim AS yang hilang rasa takutnya. Dalam situasi seperti ini seseorang pasti akan tersenyum gembira.

Ketika sarah merasa gembira karena hilangnya rasa takut nabi Ibrahim dengan perkataan malaikat : “jangan takut”. Seolah-olah dikatakan padanya, bahwa kebahagiaan itu menjadi kebahagiaan ganda ; kebahagiaan yang datang karena hilangnya rasa takut Ibrahim AS, dan kebahagiaan kedua karena hadirnya anak yang didambakan mereka berdua sejak lama.

Maka tersenyumnya Sarah dikarenakan dua kebahagiaan tersebut ; bahagia karena hilangnya takut, dan bahagia karena datangnya buah hati.

Kedua : mungkin saja dikarenakan sarah sangat membenci kaum Luth, dikarenakan kekufuran dan prilaku kotor mereka yang terkenal. Maka, ketika para malaikat mengungkapkan bahwa mereka datang untuk membinasakan kaum Luth, sarah merasa gembira dengan runtuhnya musuh Allah dan musuh kemanusiaan tersebut. Ia pun tersenyum.

Ketiga : As-Saadi mengatakan : sesungguhnya nabi Ibrahim ketika melihat mereka tidak makan, ia berkata : “Tidak kah kalian makan ?” mereka menjawab : “kami tidak makan kecuali kalau ada imbalannya” nabi Ibrahim berkata : “imbalannya Kalian menyebutkan nama Allah (basmalah) diawalnya dan memuji Allah (hamdalah) diakhirnya”

Kemudian Jibril berkata kepada Mikail : “ Memang tepat sekali, Allah mengangkat orang seperti ini sebagai teman dekat (Khalil)”

Maka karena itulah sarah tersenyum. Pendapat ini sedikit dipaksakan, karena masih banyak sebab lain yang lebih masuk akal.

Keempat : Para ahli tafsir mengatakan : Sarah berkata kepada nabi Ibrahim suaminya : “Utuslah orang untuk membawa Luth saudaramu, ajaklah ia hidup bersamamu, karena sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan kaum Luth sebelum mengazabnya.

Baru saja sarah meminta nabi Ibrahim untuk memanggil Luth, tiba-tiba para malaikat masuk rumah. Dan ketika mereka mengatakan kepada nabi Ibrahim bahwa Allah mengutus mereka untuk membinasakan kaum Luth, maka Sarah merasa keinginannya cocok dengan misi kedatangan para malaikat atas kehendak Allah SWT yang menuntut untuk membinasakan kaum perusak. Sarah pun tersenyum gembira karena kehendaknya sesuai dengan misi kedatangan para malaikat.

Kelima : Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa sebab tersenyumnya sarah karena para malaikat ketika datang kepada Ibrahim dan memberitakan bahwa mereka itu malaikat bukan manusia, meskipun mereka datang menjelma sebagai manusia, Ibrahim meminta dari mereka untuk membuktikan hal itu, dan meyakinkan bahwa mereka adalah malaikat bukan manusia. Dengan cara mendatangkan mukjizat yang membuktikan bahwa mereka adalah malaikat.

Kemudian mereka memohon kepada Allah untuk menghidupkan kembali anak sapi yang sudah dipanggang yang disembelih dan dibakar oleh nabi Ibrahim untuk mereka sebagai tamu Ibrahim. Maka anak sapi tersebut tiba-tiba loncat dari tampatnya menuju ke tempat gembalaan.

Dan adalah Sarah menyaksikan mukjizat yang mengagumkan tersebut, maka ia tersenyum ketika melihat seekor anak sapi yang sudah dipanggang tiba-tiba loncat kembali ketempat gembalaan. Ia tersenyum karena kagum dari apa yang terjadi pada anak sapi.

Pendapat ini pun terlalu dipaksakan. Karena, Al-Qur’an dan as-sunnah tidak menjelaskan atau menyinggung hal-hal yang menunjukkan akan hal itu. Karena, masih banyak hal kontradiktif lain yang sangat Nampak jelas dalam kisah ini, yang bisa dijadikan alasan ketawa.

Keenam : Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyadur perkataan Qatadah : Sesungguhnya Sarah tersenyum karena karena merasa aneh, ada satu kaum yang akan tertimpa azab sedangkan mereka tidak sadar.

Sebab, Sarah membayangkan kaum luth yang sedang santai dan lengah, padahal azab pasti datang dan menghancurkan merek, sedangkan mereka tidak sadar. Maka sarah tertawa karena aneh oleh mereka yang lalai dan tidak mau mengikuti kebenaran (hak).

Ketujuh : Ar-Razi mengatakan : Kemungkinan besar, karena para malaikat memberi kabar gembira kepada Sarah bahwasanya ia pasti akan dikaruniai seorang anak. Maka sarah tersenyum karena merasa heran dan menganggap itu tidak mungkin, sebab bagaimana ia bisa melahirkan sedangkan ia sudah terlalu tua, sudah lebih dari sembilan puluh tahun, dan ia juga mandul, dan umur nsbi Ibrahim sendiri sudah lebih dari seratus tahun. Ia merasa mandul dan sudah tua, suaminya juga sudah tua, bagaimana bisa melahirkan ?

Dan ketika para malaikat berkata kepadanya bahwa ia akan melahirkan anak, ia tertawa. Dan ketika ia tertawa Allah membahagiakannya dengan kelahiran Ishak disusul oleh Ya’qub anak Ishak.

Kedelapan : Para ahli tafsir mengatakan : Ia tertawa karena merasa heran dari ketakutan nabi Ibrahim. Dan tanda-tanda ketakutannya nampak sekali, ketika beliau melihat tiga orang lelaki tidak memakan hidangannya. Padahal nabi Ibarahim berada diantara keluarga, sanak saudara, dan pembantunya, dan ia berada dirumahnya sendiri. Tidak selayaknya Ibrahim merasa takut dari tiga orang yang seorang pun tidak tahu kalau mereka itu malaikat.

Maka adanya kontrakdiksi antara posisi Ibrahim yang berada diantara keluarga, sanak saudara dan berada dirumah sendiri, tapi ia menampakan ketakutan dari tiga orang tersebut, hal ini mengundang senyum, dan Sarah pun tersenyum.

Kesembilan : ibnu katsir dalam tafsirnya menukil perkataan Muhammad bin Qais : Sesungguhnya sarah tertawa karena kunjungan para malaikat kepada kaum Luth, karena ia menyangka bahwa mereka hendak berbuat kotor sebagaimana kebiasaan kaum Luth.

Maka tersenyumnya Sarah, adalah karena prilaku para tamu tersebut bertentangan dengan prilaku orang berakal. Mereka hendak pergi menuju kaum Luth, sedangkan orang-orang berakal sehat menjauhinya karena takut dari perbuatan kaum Luth terhadap tamu mereka.

Para tamu tersebut hendak pergi ke satu kaum yang dijauhi oleh semua orang. Dan prilaku tamu Ibrahim yang kontradiktif dengan prilaku orang lain ini, mendorong Sarah untuk tertawa.

Al-Aqqad mengomentari kisah ini dalam bukunya “Juha ad-Dhahik al-Mudhik” dengan berkata : “Setiap faktor psikologis penyebab ketawa yang ditemukan oleh para peneliti kejiwaan, telah dipaparkan oleh ayat ini secara berurutan. Mulai dengan tawa, dimana tawa bisa muncul secara tiba-tiba pada beberapa kondisi seperti berubahnya perasaan takut menjadi tenang, ingat setelah lupa, kabar gembira terhadap sesuatu yang sudah tidak ada harapan dan tidak diperkirakan. Seperti lahirnya seorang anak setelah usia menopose, dan telah putus harapan untuk mendapatkan keturunan sejak lama, sehingga merasuk dalam jiwa berbagai macam perasaan sedih, duka, cemburu, dan pasrah.

Semua faktor dan sikap diatas tidak cukup diwakili oleh kata “gembira” sebagai ganti kata “ketawa” dalam redaksi al-Qur’an. Karena tertawa merupakan reaksi yang selalu muncul dan ungkapan yang cocok dalam keadaan seperti ini. Dimana terjadi hal-hal yang simpang siur dan kontradiktif sehingga mendorong untuk tersenyum.sumber :

Bercanda ala Rasul SAW

Judul Asli : الضحك والمزاح في حياة النبي – صلى الله عليه وسلم –(last)

Scroll To Top