Tampilkan Perilaku yang Mulia Sebagai Umat Terbaik

Tampilkan Perilaku yang Mulia Sebagai Umat Terbaik

Tampilkan Perilaku yang Mulia sebagai umat terbaikOleh: Dr. Amir Mahmud, M.Ag

Shoutussalam.com – Setiap tingkah laku kehidupan kita tak terlepas dari apa yang kita inginkan .Karena syahwat merupakan fitrah manusia dan manusia merasa indah jika syahwatnya terpenuhi maka syahwat menjadi penggerak tingkah laku.

Jika seseorang sedang lapar atau haus maka tingkahlakunya selalu mengarah kepada tempat dimana dapat diperoleh makanan dan minuman. Jika yang sedang dominant syahwat seksual maka perilakunya juga selalu mengarah kepada hal-hal yang memberi kepuasan seksual. Begitulah seterusnya, perilaku manusia sangat dpengaruhi oleh syahwat apa yang sedang dominan dalam dirinya; syahwat seksual, syahwat politik, syahwat pemilikan, syahwat kenyamanan, syahwat harga diri, syahwat kelezatan dan lain-lainnya.

Syahwat itu seperti anak-anak, jika dilepas maka ia akan melakukan apa saja tanpa kendali, karena anak-anak hanya mengikuti dorongan kepuasan, belum mengerti tanggung jawab. .Jika dididik, jangankan anak-anak binatang pun tingkahlakunya bisa dikendalikan. Syahwat yang dimanjakan akan mendorong pada pola hidup gelamor dan hedonis.

Sementara jika kita menengok pada Ajaran Islam, yang sangat berbeda dengan ajaran yang lain telah memebrikan sesuatu kebahagiaan dan kemuliaan bagi segenap manusia, karena Allah telah memberikan klaim pada umat Islam sebagai umat yang terbaik dalam segalanya dan menjadi pilihan. Maknanya adalah bahwa tidak dipungkiri bahwa umat Islam adalah umat yang selalu memadukan antara segala keinginan dan kebutuhan serta dalam segala aktifitas kehidupannya menyatukan antara konsep ilahiyah dengan konsep manusia pada seluruh perilakunya.Allah Berfirman :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian, Kami telah menjadikan kamu sekalian wahai umat Islam sebagai satu golongan yang terbaik, adil dan pilihan : kelebihan-kelebihan kamu menjadi saksi dan teladan bagi golongan ummat manusia lainnya, sedangkan pribadi Muhammd Rasulullah menjadi saksi dan teladan buat kamu sekalian … (Q.S. Al-Baqarah: 143 )Para ahli tafsir memberikan penilaian bahwa ayat tersebut di atas mempunyai latar belakang (back ground) sosiologis dan historis yang sangat dalam. Pengertian “Ummatan Wasathon” pada ayat itu, telah ditafsirkan oleh Ibnu Katsir didalam kitabnya “Jamil’ul Bayan” sebagai potensi, kemampuan dan kelebihan-kelebihan ummat Islam dalam kurun pertama sejarahnya dalam capaian dibidang-bidang materil, intelektual dan spiritual manusia.

Keadaan masyarakat dunia pada waktu itu, Kata Syaikh Moh. Abduh, terbagi kedalam dua kubu ekstrim yang tidak bisa didamaikan: Materialisme Yahudi dengan segala golongan pendukungnya pada satu pihak dan golongan masyarakat yang lebih menitik beratkan kehidupannya kepada jalur kepentingan rohani di lain pihak. Yang disebutkan terakhir diwakili oleh golongan Nasrani, Hindu, dan shabi’in.

Dapat di fahamkan bahwa pola pandangan hidup yang sektarianitis dan bersifat membelah itu dalam manifestasi sikap budayanya bukan saja bisa menimbulkan konflik-konflik sosial, tetapi juga bisa menimbulkan konflik-konflik batiniah dan intelektual pada setiap Individu. Hal itu sangatlah wajar, sebab pola pandngan hidup yang bersifat menyebelah dalam manifestasi kulturalnya tidak mungkin mampu membimbing dan memeberikan pengarahan positif kepada perkembangan fitrah manusia.

Ajaran dan pandangan hidup Islam, yang dalam terminologi Al-Qur’an disebut Ad-Dien, secara konsepsional maupun operasional seperti telah dibuktikan oleh praktek kesejarahan, sangat berbeda dari agama-agama atau pandngan hidup yang lahir sebelumnya, baik dari segi pengertian maupun prakteknya.

Maka jika saja kita umat Islam tidak melakukan yang Allah telah tegaskan kepada manusia, sesungguhnya yang berlaku adalah kehinaan dan nampaklah bahwa kerendahan moral, kita telah saksikan di segala bidang seperti di lembaga hukum tak ada lagi memihak kepada keadilan tapi kepada suatu golongan dan kepentingan. Di bidang ekonomi tampak kapitalisme mengataskan agama hanya untuk kepentingan-kepentingan sekelompok bahakan kerusakan perekonomian itupun sampai kepada tingkat lapisan paling bawah. Dekadensi moral dikalangan pelajar semakin semarak bahkan data dari riset memberikan nilai angka tertinggi kerusakan moral berada di kalangan pelajar, karena begitu cepat pengaruhnya kepada lingkungan seperti gaya kebebasan pergaulan, free sex, geng pelajar dll.

Di bidang politik tak tampak lagi mereka menjadi hamba Allah yang membela kebenaran tetapi membela siapa yang lebih mendatangkan kepadanya kebaikan dan keuntungan. Sungguh menjadi malu mestinya kita pada Allah bahwa umat Islam yang semestinya hamba yang paling mulia tetapi pada realitasnya telah menjadikan hanba syaithan dan hina.

Scroll To Top