Kacamata Pancasila, Kacamata Papua

Kacamata Pancasila, Kacamata Papua

Pada paruh kedua tahun 2011 perhatian beberapa media besar di Indonesia tercurahkan pada kekerasan yang tak berujung di pulau paling timur Indonesia, yakni Papua. Seolah-olah setiap hari ada saja aparat keamanan yang menjadi korban dari serangan “orang tak dikenal”. Sudah bukan rahasia lagi bahwasanya di tanah yang kaya akan barang tambang tersebut sering terjadi diskriminasi yang menyebabkan banyak kalangan melakukan kegiatan yang disebut dengan nama separatisme. Entah apa yang ada di benak petinggi negeri ini, ketika sekelompok masyarakat yang terhimpit dan mencoba untuk bangkit dengan pemahaman mereka sendiri-sendiri dipojokkan dengan nada yang sinis.

Sandang Versus Sakralitas NKRI

Merupakan hal yang aneh jika sebuah daerah kaya akan barang tambang yang tereksplorasi, tapi penduduk yang menjadi tuan di daerah tersebut hidup bagaikan kebudayaan purba. Logikanya penduduk dengan kekayaan emas melimpah setidaknya memakai perhiasan berlapiskan emas di tubuh mereka. Namun apa yang terjadi ? Sejak zaman akhir 1960-an ketika Soeharto mengundang Freeport ke Irian Jaya, masih banyak penduduk Papua yang belum mengenal peradaban modern.

Sebenarnya tidak ada alasan apapun untuk tetap mempertahankan budaya telanjang masyarakat Papua di zaman millenium ini, jika pihak yang terkait benar-benar peduli dengan Papua. Berton-ton logam mulia berpindah secara mudah ke luar negeri, namun sedikit sekali keuntungan yang didapatkan untuk membangun Papua secara menyeluruh. Dari segi kebutuhan primer saja banyak wilayah Papua yang belum terjangkau “peradaban”. Sandang, pangan, dan papan masyarakat masih banyak yang di bawah standar kehidupan masyarakat modern.

Secara logika tidak aneh jika sebagian masyarakat Papua yang cerdas dan peduli melakukan langkah-langkah yang dianggap radikal untuk mencapai keadilan untuk mereka. Toh, keadilan sosial itu tidak pernah terwujud secara menyeluruh di tanah mereka. Apapun alasannya, sila-sila Pancasila telah gagal menuntun masyarakat Papua yang mayoritas Nasrani menuju masyarakat yang berkualitas. Setidaknya di bawah standar rata-rata dari masyarakat yang mengaku berpancasila itu sendiri.

Pancasila Sebagai Tameng

NKRI harga mati ! Itulah semboyan yang sering dipuja-puja oleh mereka yang mengaku berideologi pancasila. Sebuah ideologi yang sebenarnya hanyalah konsep temporer yang mentah. Bahkan oleh salah satu pendirinya sendiri, yakni Nabi besar Pancasila, Ir. Soekarno, Pancasila seringkali menjadi korban perselingkuhan. Kadangkala Soekarno berselingkuh dengan Liberalisme, untuk kemudian mengibarkan selingkuhannya yang baru, yakni Nasakom.

Seorang pahlawan NKRI lainnya mencoba untuk mengembalikan Pancasila dan UUD ’45 ke puncak tertinggi hirarki ideologi di Indonesia. Dialah Soeharto, sang Bapak Pembangunan. Namun anehnya, dia memenjarakan Bung Karno, sang Nabi Pancasila, hingga akhir hayatnya. Padahal secara logika, jika Soeharto ingin mengamalkan Pancasila secara murni, maka pemahaman murni Pancasila ada dalam pikiran konseptornya. Sedangkan Soeharto sendiri pada masa kemerdekaan bukanlah apa-apa dalam konteks kenegarawanan.

Hingga akhirnya Soeharto sendiri pun gagal dalam mengkonsepkan Pancasila dalam kehidupan Negara Sakral NKRI. Kejatuhannya di tahun 1998 adalah bukti dari kegagalannya membuktikan eksistensi Pancasila dalam aplikasi kenegaraan . Riwayat kekuasaannya diwarnai oleh kediktatoran dan KKN. Hingga rezim pun berganti menjadi rezim bebas era reformasi. Apakah Pancasila telah menjadi tepat guna di rezim ini ? Ternyata sama sekali tidak. Semua orang pasti sepakat jika zaman reformasi adalah zaman amburadul di mana entropi politik dan sosial di zaman ini sangat buruk nilainya.

Sepertinya Pancasila dan sakralitas NKRI sebenarnya adalah sebuah semangat usang. Ia adalah hasil dari sebuah euforia kebebasan dari penindasan kolonialisme. Saat ini Pancasila telah menjadi tameng bagi sebagian orang untuk mencari uang dan kekayaan. Salah satu kasus yang kongkrit adalah di Papua. Mereka yang punya kedudukan dan pemasukan tinggi dari eksplorasi Papua pastilah tidak akan ikhlas jika sumber pencaharian mereka menguap. Akhirnya keutuhan NKRI adalah dalil bagi pemaksaan kehendak dan segala diskriminasi.

Visi Islam

Islam adalah ideologi yang sangat menyeluruh. Ia mengatur keberadaan manusia dari dalam istana hingga pojok-pojok toilet. Allah subhanahu wa taala telah memerintahkan orang yang mengaku beriman untuk memasuki Islam ini secara kaffah dan sempurna.Dalam al-Baqarah ayat 208 disebutkan :

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS al-Baqarah : 208)

Memisahkan Islam dari peran kenegaraan adalah hal yang tidak pernah diajarkan dalam sejarah orang-orang shalih. Yang ada adalah mereka cendekiawan Yahudi dan Nasrani menggantung pendeta-pendeta mereka, seperti yang terjadi pada revolusi Prancis. Malah, banyak orang yang mengaku Islam di zaman ini dalam kondisi terjajah karena mereka mengamalkan ajaran-ajaran cendekiawan ahli kitab dalam bernegara. Mereka yang menjadi tonggak sekulerisme pada kenyataannya adalah anjing penjaga kepentingan kapitalisme di hari ini.

Islam sendiri adalah orientasi tentang akhirat. Sehingga mengamalkan ajaran Islam pada hakikatnya adalah menabung untuk kehidupan di hari esok. Jadi jika percaya dan telah menyerahkan hati kepada Islam, maka akhiratlah yang menjadi tujuan, bukan sekedar kekayaan dan kebutuhan duniawi [sksd]

Scroll To Top